Rupiah Terperosok ke Level Terendah Sepanjang Sejarah di Rp 17.614 per Dolar AS, Simak 3 Faktor Pemicunya

Penulis: Sabar Simanjuntak  •  Jumat, 15 Mei 2026 | 15:47:01 WIB
Rupiah melemah ke posisi terendah sepanjang sejarah di Rp 17.614 per dolar AS.

JAKARTA — Nilai tukar rupiah dibuka melemah signifikan sebesar 84 poin atau terkoreksi 0,48 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Posisi Rp 17.614 per dolar AS ini dikonfirmasi oleh para analis sebagai titik terlemah mata uang Indonesia sejak merdeka, melampaui level-level kritis yang pernah terjadi pada krisis-krisis sebelumnya.

Rupiah Melemah 84 Poin ke Level Rp 17.614 per Dolar AS

Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra menyatakan bahwa pergerakan pagi ini merupakan rekor pelemahan baru bagi nilai tukar rupiah. Kondisi pasar saat ini sedang menghadapi tekanan bertubi-tubi dari faktor eksternal yang membuat investor cenderung mengalihkan aset mereka ke mata uang yang lebih aman (safe haven).

"Iya, level terendah sepanjang sejarah," kata Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Ariston menjelaskan bahwa pelemahan ini bukan tanpa alasan. Kombinasi sentimen global menjadi motor utama yang menyeret rupiah ke zona merah. Selain ketegangan geopolitik, indikator ekonomi dari Negeri Paman Sam terus menunjukkan performa yang kuat, sehingga membuat dolar AS kian perkasa di pasar global.

Fakta Singkat Pelemahan Rupiah (15/5):

  • Nilai Tukar: Rp 17.614 per dolar AS (Rekor terendah sejarah).
  • Margin Penurunan: Melemah 84 poin atau minus 0,48 persen.
  • Pemicu Global: Konflik Timur Tengah dan tingginya harga minyak dunia.
  • Data AS: Penjualan ritel meningkat, memperkecil peluang pemangkasan suku bunga The Fed.
  • Kondisi Regional: Mayoritas mata uang Asia (Won, Baht, Ringgit) turut memerah.

Data Penjualan Ritel AS dan Harga Minyak Tekan Mata Uang Asia

Kenaikan harga minyak mentah dunia yang masih bertahan di level tinggi turut memperkeruh situasi. Ariston menyebutkan bahwa data penjualan ritel terbaru di Amerika Serikat menunjukkan pertumbuhan yang sesuai dengan prediksi pasar. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa ekonomi AS masih sangat solid, sehingga Bank Sentral AS atau The Fed kemungkinan besar tidak akan menurunkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat.

Senada dengan hal tersebut, analis pasar uang Lukman Leong mencermati bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi beban tambahan bagi rupiah. Inflasi di Amerika Serikat yang lebih panas dari perkiraan pasar memicu kekhawatiran akan adanya kenaikan suku bunga lanjutan di masa depan.

"Iya, terendah sepanjang sejarah," kata Lukman saat memberikan konfirmasi mengenai posisi rupiah hari ini.

Imbal Hasil Obligasi AS Capai Level Tertinggi dalam Setahun

Lukman menilai pasar saat ini juga tengah mencermati dinamika politik internasional, termasuk pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump. Meski hasil resmi belum keluar, optimisme investor terhadap pertemuan tersebut justru memberikan tenaga tambahan bagi indeks dolar AS untuk terus menguat.

"Rupiah diperkirakan dibuka melemah terhadap dolar AS seiring penguatan indeks dolar di tengah optimisme investor terhadap pertemuan Xi dan Trump, meskipun pertemuan masih berlangsung dan belum ada pernyataan resmi terkait hasil pertemuan tersebut," ujar Lukman.

Kondisi ini tidak hanya dialami Indonesia. Di kawasan regional, Won Korea Selatan terpangkas 0,50 persen, Baht Thailand turun 0,28 persen, dan Ringgit Malaysia melemah 0,39 persen. Bahkan mata uang negara maju seperti Poundsterling Inggris dan Euro juga tidak luput dari tekanan, masing-masing melemah 0,28 persen dan 0,19 persen terhadap dolar AS.

Reporter: Sabar Simanjuntak
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top