SERANG — Pembukaan tradisi Bedolan Pamarayan berlangsung di Bendungan Pamarayan dengan pengamanan lintas instansi. Pemkab Serang bersama Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC3) berkoordinasi menjaga kondusivitas kawasan selama acara.
Bupati menyebut tradisi ini sudah dikenal sejak zaman kolonial. Pelaksanaannya sempat terhenti beberapa tahun terakhir, termasuk akibat pandemi COVID-19.
"Alhamdulillah, hari ini kita membuka kegiatan Bedolan Pamarayan. Tradisi ini sangat dinanti-nanti oleh masyarakat sekitar Kecamatan Pamarayan dan Kecamatan Cikeusal," kata Ratu Zakiyah kepada media usai membuka kegiatan.
Pintu Air Dibuka Tiga Jam, Aliran Sungai Diawasi Ketat
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Serang Suhardjo menjelaskan, pintu air hanya dibuka tiga jam, pukul 10.00 hingga 13.00 WIB. Hanya pintu timur yang dioperasikan, sehingga dampaknya terbatas pada wilayah Pamarayan, Bandung, Kibin, Tanara, dan Carenang.
Menurut Suhardjo, pembukaan pintu air tidak mengganggu masa panen petani. Pemulihan aliran normal membutuhkan waktu 5-7 hari.
"Kalau panen dan insya Allah tidak berpengaruh. Dan untuk pemulihannya butuh waktu 5-7 hari. Jadi sudah 5-7 hari normal kembali, aliran normal," ujarnya.
Antisipasi Longsor dan Arus Deras Sungai Pamarayan
Kekhawatiran utama panitia adalah derasnya aliran air Sungai Pamarayan yang melintasi kawasan bendungan. Potensi longsor disebut sudah diantisipasi sejak jauh hari.
Pemkab Serang meminta bantuan Polair, Basarnas, BPBD, dan instansi lain untuk mengawasi jalannya acara. Bupati meminta warga tidak memaksakan diri demi mengejar ikan.
"Tadi saya sampaikan kepada seluruh warga yang hadir di sini, nikmati kegiatan ini, ambil keberkahannya dan yang lebih penting adalah menjaga keselamatan jiwa. Tidak ada ikan yang berharga kecuali keselamatan jiwa," kata Ratu Zakiyah.
Orang tua diminta mengawasi anak-anak selama proses penangkapan ikan berlangsung.
Evaluasi Digelar Sebelum Memutuskan Kelanjutan Tradisi
DKPP akan mengevaluasi pelaksanaan Bedolan Pamarayan tahun ini sebelum memutuskan apakah tradisi dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya. Suhardjo mencatat pelaksanaan terakhir sebelum pandemi terjadi pada 2019.
"Nanti kita evaluasi dulu, dari hasilnya sekarang ini terakhir kan kemarin 2019 ya saat saya masih menjabat di Dinas Perikanan 2019 terakhir, habis itu covid. Baru tahun ini dilaksanakan kembali," katanya.
Meski begitu, pengecekan bangunan bendungan disebut tetap akan dilakukan setiap tahun melalui mekanisme bedolan, terlepas dari hasil evaluasi festivalnya.