Program MBG di Lebak Putar Uang Rp4,85 Miliar Per Hari

Penulis: Nanda Kurniawan  •  Senin, 04 Mei 2026 | 14:40:23 WIB
Program Makan Bergizi Gratis di Lebak memutar uang Rp4,85 miliar per hari dari 194 dapur pelayanan gizi.

LEBAK — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan Presiden Prabowo Subianto memberikan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat Kabupaten Lebak, Banten. Hingga awal Mei 2026, tercatat sebanyak 194 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beroperasi untuk menyuplai kebutuhan pangan berkualitas bagi penerima manfaat di daerah tersebut.

Keberadaan ratusan dapur pelayanan ini menciptakan ekosistem ekonomi baru yang menyerap produk pertanian, peternakan, hingga perikanan lokal. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap sajian makanan memenuhi standar mutu sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga petani di pelosok Lebak.

Perputaran Ekonomi Rp4,85 Miliar per Hari di Lebak

Ketua Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Lebak, Asep Royani, mengungkapkan bahwa setiap SPPG rata-rata menggelontorkan dana sebesar Rp25 juta per hari untuk belanja bahan pokok. Dengan total 194 unit yang tersebar, akumulasi perputaran uang di tingkat produsen lokal mencapai Rp4,85 miliar setiap harinya.

"Semua SPPG itu menampung produksi ekonomi lokal, sehingga meningkatkan kesejahteraan petani," kata Asep Royani di Lebak, Minggu (3/5/2026).

Komoditas yang diserap mencakup beras, aneka sayuran, buah-buahan, hingga sektor peternakan seperti unggas dan telur. Selain itu, sektor perikanan budidaya air tawar turut menjadi pemasok utama untuk memenuhi kebutuhan protein hewani dalam program tersebut.

Petani Sayur dan Peternak Ikan Kebanjiran Pesanan

Geliat ekonomi ini dirasakan langsung oleh para petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) Kabupaten Lebak. Ketua Gapoktan Lebak, Ruhiana, menyebutkan banyak petani kini mulai fokus mengembangkan tanaman sayuran komersial yang sebelumnya hanya ditanam dalam skala kecil.

"Sejak program MBG digulirkan, banyak petani di sini mengembangkan aneka tanaman sayuran seperti kacang panjang, kangkung, paria, oyong, ketimun, dan beras. Hasil panen itu ditampung oleh pengelola SPPG," ujar Ruhiana.

Di sektor perikanan, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lebak, Winda Triana, menjamin ketersediaan stok ikan tawar untuk kebutuhan program ini. Saat ini, produksi ikan tawar daerah mencapai 4.089,15 ton per tahun yang didominasi jenis lele, nila, emas, gurame, patin, hingga udang vaname.

"Kami memproduksi ikan tawar dengan perputaran uang mencapai Rp141 miliar per tahun," kata Winda menjelaskan kapasitas produksi daerahnya.

Tantangan Pasokan Buah dan Distribusi Regional

Meski sebagian besar kebutuhan pokok sudah terpenuhi dari petani lokal Lebak, pemenuhan komoditas buah-buahan masih menghadapi kendala. Saat ini, produksi buah lokal belum mampu mencukupi permintaan harian dari 194 SPPG yang ada.

Kondisi ini memaksa pengelola SPPG untuk mendatangkan pasokan buah dari luar daerah, salah satunya melalui Pasar Rau di Kota Serang. Pemerintah daerah terus mendorong petani hortikultura untuk meningkatkan kapasitas produksi agar seluruh rantai pasok MBG dapat dipenuhi sepenuhnya dari tanah Lebak.

Program MBG terbukti tidak sekadar menjadi instrumen perbaikan gizi nasional, tetapi juga mesin pertumbuhan ekonomi baru di perdesaan. Transformasi ini diharapkan mampu menekan angka kemiskinan melalui kepastian pasar bagi produk-produk unggulan daerah.

Reporter: Nanda Kurniawan
Back to top