TANGSEL — Longsoran material tanah di proyek cut and fill Jalan Raya Ciater, Kelurahan Serua, Selasa (5/5/2026), menjadi pemicu tindakan inspeksi Pilar Saga Ichsan. Kejadian dipicu hujan ekstrem dan menghalangi arus lalu lintas dalam waktu lama, menciptakan preseden negatif terhadap izin yang telah diberikan Pemkot. "Kemarin saya dapat laporan, orang sampai dua jam kena macet total di sini," ujar Pilar usai mengunjungi lapangan.
Tiga Syarat Perizinan yang Masih Tertunda
Dalam tinjauannya, Pilar menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap seluruh ketentuan perizinan serta pengendalian dampak lingkungan. Pemerintah Kota Tangerang Selatan memastikan setiap kegiatan pembangunan harus memenuhi aspek perizinan yang berlaku, termasuk Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan analisis dampak lalu lintas (andalalin) yang saat ini masih dalam proses. "Proses berikutnya persetujuan bangunan gedung, analisis dampak lalulintas masih proses, saya minta semua harus dipenuhi," tuturnya.
Pilar meminta kontraktor dan pemilik usaha membuat drainase khusus baik di area luar maupun dalam proyek untuk mencegah pembebanan drainase pemerintah. "Jangan mengandalkan drainase perkotaan, karena drainase perkotaan itu bukan untuk ngumpulin tanah, itu untuk saluran air agar tidak tergenang," tegasnya. Piranti drainase mandiri menjadi prasyarat lanjut perizinan agar material merah dan limpah air proyek tidak membanjiri sistem kota.
Kerja Berat Kontraktor & Antisipasi Bencana Ulang
Pilar memerintahkan kontraktor segera menerjunkan alat berat untuk mengeruk longsoran tanah merah di jalan dan saluran drainase milik pemkot. Tindakan mendesak ini guna memulihkan aksesibilitas dan menghilangkan material yang mengancam stabilitas jalan. "Saya mengingatkan kejadian ini jangan sampai terjadi kembali, karena akan jadi preseden tidak baik dari masyarakat kepada kami yang memberikan perizinan ke depannya," tekannya.
Selain sistem drainase, Pilar juga meminta pihak kontraktor membuat dinding penahanan tanah (DPT) di dekat pemukiman warga sesuai permintaan warga lingkungan sekitar. Langkah ini mengantisipasi risiko runtuhan yang mengancam rumah permukiman dan merespons aspirasi warga sekitar proyek. "Pak RW menyampaikan, tolong penguatan dinding didekat rumah warga jangan sampai ambrol, itu kita jaga sama-sama," pungkasnya.