Petinggi PayPal, Robinhood, dan Public.com sepakat bahwa kepercayaan pengguna melalui desain produk yang transparan menjadi kunci utama adopsi aset kripto serta AI saat ini. Fenomena ini muncul di tengah lonjakan investor pemula yang membutuhkan perlindungan lebih dari sekadar kecanggihan teknologi. Fokus industri kini bergeser dari adu fitur menuju kepatuhan regulasi dan kontrol penuh di tangan pengguna.
Dalam gelaran Consensus Miami pekan ini, para eksekutif industri finansial global menyoroti hambatan utama adopsi kripto dan kecerdasan buatan (AI) yang bukan lagi soal infrastruktur teknis, melainkan krisis kepercayaan. Mereka menekankan bahwa industri harus mulai memperlambat tempo inovasi untuk memastikan pengguna memahami risiko dari produk yang mereka gunakan.
Bahaya Leverage Tinggi bagi Investor Pemula
Nicola White, VP Crypto Institutions Robinhood, mengungkapkan data krusial bahwa 50 persen pengguna baru platformnya pada kuartal pertama 2024 merupakan investor pemula. Fakta ini menjadi dasar bagi Robinhood untuk mendesak industri agar tidak terburu-buru menawarkan produk dengan risiko tinggi kepada ritel.
"Kita semua membangun (produk) dengan sangat cepat. Saya rasa kita perlu memastikan bahwa kita memperlambat langkah dan memikirkan: apakah yang kita bangun adalah hal yang tepat bagi pelanggan?" ujar White. Ia secara spesifik mempertanyakan etika penawaran leverage hingga 100 kali lipat kepada klien ritel, mengingat risiko likuidasi yang sangat besar bagi mereka yang belum berpengalaman.
Menghapus 'Kotak Hitam' dalam Investasi Berbasis AI
Sruthi Lanka, CFO Public.com, menyoroti pentingnya visibilitas dalam penggunaan AI untuk investasi. Public.com kini menerapkan sistem "resep deterministik" di mana pengguna harus meninjau dan menyetujui setiap langkah sebelum transaksi dilakukan oleh agen AI. Langkah ini diambil untuk menghindari fenomena black box atau sistem yang bekerja tanpa transparansi proses.
"Penting untuk memberi tahu pengguna produk AI tentang apa yang sistem tidak lakukan, selain apa yang dilakukannya," kata Lanka. Ia juga mencatat pergeseran budaya kerja di internal perusahaannya, di mana akuntan hingga tim pemasaran kini mulai menulis kode sendiri, sebuah tren yang ia prediksi akan menjadi standar baru di industri finansial.
Strategi PayPal: Kepatuhan Bukan Urusan Belakangan
PayPal mengambil pendekatan yang lebih konservatif dengan mengutamakan aspek regulasi sejak awal pengembangan produk. Smitha Purohit, Senior Director of Product for Crypto PayPal, menegaskan bahwa kepercayaan pengguna dibangun melalui dua hal: kesempatan untuk bereksperimen dalam skala kecil dan jaminan bahwa perusahaan akan bertanggung jawab jika terjadi kendala.
"Saat Anda membangun terlalu cepat, kepatuhan sering kali menjadi pemikiran belakangan, dan saya rasa itu bukan cara membangun produk yang skalabel. Seharusnya kepatuhan dan regulasi menjadi yang utama," tegas Purohit.
Prediksi Masa Depan dan Kontradiksi MicroStrategy
Para panelis juga melontarkan beberapa prediksi berani untuk beberapa tahun ke depan:
- Agen AI Massal: Lindsey Bell dari 248 Ventures memproyeksikan 80 persen warga Amerika Serikat akan beroperasi dengan setidaknya satu agen AI pada awal 2027.
- Redundansi Manajer Kekayaan: Pengguna ritel diprediksi akan semakin mandiri dalam mengelola portofolio mereka, membuat peran manajer kekayaan tradisional perlahan terkikis.
- Ekonomi Konten: Penggunaan stablecoin akan memicu model "pay as you go" untuk konsumsi konten melalui mekanisme pembayaran mikro (micropayments).
Di sisi lain, dinamika industri kripto juga diwarnai dengan laporan keuangan MicroStrategy yang mencatatkan kerugian bersih sebesar 12,54 miliar dolar AS (sekitar Rp 200,6 triliun) pada kuartal pertama. Meski merugi, perusahaan yang dipimpin Michael Saylor ini tetap memegang 818.334 Bitcoin dan berencana menjual sebagian aset kripto tersebut untuk mendukung pembagian dividen bagi pemegang saham.