Festival Anyer-Panarukan Resmi Dibuka di Anyar, Silat dan Debus Jadi Pengingat Jejak Jalan Raya Pos

Penulis: Pandu Wibisono  •  Senin, 17 Agustus 2026 | 10:00:31 WIB
Puluhan peguron pencak silat dari berbagai penjuru Banten menampilkan gerak dan jurus khas masing-masing di halaman Kantor Kecamatan Anyar.

SERANG — Halaman Kantor Kecamatan Anyar berubah menjadi panggung kebudayaan pada Jumat malam pekan lalu. Puluhan peguron atau padepokan pencak silat dari berbagai penjuru Banten unjuk kebolehan, menampilkan gerak dan jurus khas masing-masing. Pertunjukan debus yang identik dengan identitas budaya Banten kemudian menyusul, mengundang warga untuk mendekat dan menyaksikan atraksi yang sarat nilai sejarah itu.

Malam itu menjadi penanda dimulainya Festival Anyer-Panarukan, sekaligus dirangkaikan dengan Festival Seni Budaya Silat Terumbu Banten. Acara ini juga menjadi momen pengukuhan pengurus DPC PPSTB (Perguruan Pencak Silat Terumbu Banten) Kecamatan Anyar beserta enam padepokan di wilayah tersebut.

Bukan Sekadar Jalan, tapi Akar Sejarah dan Tradisi

Festival ini lahir dari gagasan besar bernama Anyer-Panarukan 3R: Road, Route, Roots. Konsep tersebut diresmikan melalui nota kesepahaman antara Pemerintah Kabupaten Situbondo dan Pemerintah Kabupaten Serang pada 29 Juli 2026 di Pendopo Rakyat Situbondo.

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menandatangani kerja sama yang diarahkan untuk mengubah Jalan Raya Pos menjadi koridor pariwisata sejarah, ekonomi kreatif, dan kolaborasi antardaerah. Road merujuk pada jalan sebagai infrastruktur dan jejak sejarah, Route memosisikannya sebagai lintasan penghubung, sementara Roots menggali akar kebudayaan dan tradisi masyarakat di sepanjang jalur.

Silat dan Debus: Simpul Budaya di Titik Nol Kilometer

Pilihan silat dan debus sebagai pembuka festival bukan tanpa alasan. Anyar tidak hanya tercatat sebagai titik awal pembangunan Groote Postweg pada 1808, tetapi juga bagian dari ruang kebudayaan Banten yang masih hidup hingga kini. Tradisi silat, padepokan, dan debus tumbuh subur di tengah masyarakat, menjadikannya simpul pertama dari rangkaian cerita di jalur sepanjang sekitar 1.000 kilometer itu.

Camat Anyar Imron Ruhyadi yang juga menjabat Ketua DPD PPSTB Kabupaten Serang menegaskan, kegiatan tersebut merupakan bentuk awal dukungan masyarakat terhadap Festival Anyer-Panarukan. “Ini bentuk dukungan. Ke depan kegiatan Anyar-Panarukan masyarakat Anyar akan mendukung penuh,” kata Imron.

Ia menambahkan, setiap perguruan menampilkan kekhasannya masing-masing. “Dari ciri khas masing-masing silat tiap peguron atau padepokan sampai seni budaya debusnya semua ditampilkan,” ujarnya.

Menghidupkan Ingatan, Bukan Sekadar Seremoni

Menghidupkan kembali jalur Anyer-Panarukan bukan pekerjaan sederhana. Lebih dari sekadar memasang penanda kilometer atau merawat bangunan peninggalan, ada tantangan yang lebih rumit: menemukan kembali ingatan masyarakat yang tumbuh di sepanjang rute bersejarah tersebut.

Imron menyebut kegiatan berikutnya akan diarahkan lebih besar dengan melibatkan organisasi perangkat daerah dan masyarakat. “Ke depan kita akan coba kegiatan yang lebih meriah lagi dalam rangka Festival Anyer-Panarukan sekaligus melestarikan seni budaya silat,” katanya. Sejumlah OPD Kabupaten Serang, termasuk Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata, Dinas Komunikasi dan Informatika, serta Dinas Lingkungan Hidup, turut hadir dalam acara ini.

Namun festival sejarah ini juga mengusung tanggung jawab untuk menempatkan sejarah secara jernih. Jalan Raya Pos yang dibangun Daendels untuk kepentingan militer dan logistik kolonial memiliki beban sosial dan politik bagi penduduk pribumi. Mengemasnya menjadi destinasi wisata sejarah berarti tidak menghapus sisi kelam tersebut, melainkan menjadikannya bagian dari refleksi bersama tentang bagaimana sebuah proyek penguasa dapat bertransformasi menjadi ruang kebudayaan bagi masyarakat di masa kini.

Reporter: Pandu Wibisono
Sumber: jejakkata.news This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top