Setiap desa peserta program mengelola 20 kolam budidaya. Target panen mencapai 10 ton ikan per musim. Dengan harga Rp20 ribu per kilogram, total nilai produksi per desa diperkirakan Rp200 juta.
Ikan yang dibudidayakan adalah lele dan nila. Lele dapat dipanen dalam 40 hari, sedangkan nila membutuhkan waktu tiga bulan.
Hasil panen tidak dijual langsung ke pasar, melainkan dikelola oleh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Koperasi inilah yang akan memasok ikan ke SPPG atau dapur program MBG.
"Kita berharap pembudi daya ikan tematik sistem RAS itu dapat menumbuhkan ekonomi masyarakat desa," kata Winda.
Budidaya menggunakan sistem Recirculating Aquaculture System (RAS), yaitu teknologi intensif yang memungkinkan air digunakan secara terus-menerus. Filter fisika dan biologi, sinar ultraviolet, serta oksigen generator dipasang untuk menjaga kestabilan lingkungan ikan.
Sistem ini mengurangi pemakaian air dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup populasi ikan. Pemerintah daerah memberikan pembinaan dan bimbingan teknis agar produksi sesuai standar SPPG.
Ikan mengandung protein, omega-3, dan gizi yang dapat meningkatkan kecerdasan. Winda meyakini usaha budidaya ini mampu mendorong perekonomian warga desa.
"Kami meyakini usaha budi daya ikan tawar itu dipastikan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat," ujarnya.