SERANG — Politisi asal daerah pemilihan Lebak itu menyoroti hubungan erat antara tingkat pendidikan dan kesejahteraan warga. Ia menegaskan bahwa tanpa perbaikan di sektor pendidikan, upaya pengentasan kemiskinan akan berjalan lambat.
“Memang penyebab kemiskinan pertama itu pendidikan. Orang tidak peduli membaca, tidak peduli ilmu pengetahuan, akhirnya mudah dipengaruhi dan sulit berkembang,” kata Supriadi.
Supriadi mengingatkan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN maupun APBD harus benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ia menilai realisasi di lapangan masih kerap bocor untuk kebutuhan di luar prioritas utama.
Menurutnya, pemerintah sebenarnya sudah berupaya memperluas akses melalui program sekolah gratis hingga jenjang SMA. Namun, beban biaya lain seperti seragam dan perlengkapan sekolah masih memberatkan sebagian warga kurang mampu.
Anggota DPRD Banten itu juga menyoroti rendahnya minat baca di tengah masyarakat. Ia menilai kebiasaan membaca mulai tergerus oleh penggunaan telepon seluler yang lebih banyak dipakai untuk hiburan ketimbang mencari ilmu.
“Kalau pendidikan semakin baik, masyarakat juga akan semakin maju. Kemiskinan bisa diputus melalui pendidikan,” ujarnya.
Supriadi mengapresiasi program Sekolah Gratis untuk jenjang SMA dan SMK swasta yang digulirkan Pemerintah Provinsi Banten. Ia optimistis kebijakan tersebut bisa menjadi salah satu solusi jangka panjang jika dijalankan secara konsisten.
Ia berharap ke depan tidak ada lagi anak usia sekolah di Lebak yang putus sekolah karena alasan biaya. Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang.