BANTEN — Pekan lalu, Redi Noverindo masih sibuk mengelola pesanan minuman cokelat instan dari Jakarta hingga luar Pulau Jawa. Padahal, dua tahun lalu ia baru berani membuka lapak kecil di depan SD Kelapa Dua, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
“Awal mula usaha pada 10 Maret 2022 ketika saya sudah tidak bekerja lagi. Ide ini berawal dari kebiasaan anak yang sering membeli minuman aneka rasa di sekolah,” ujar Redi dalam keterangan resmi, Sabtu (30/5).
Redi memulai bisnis dengan menjajakan minuman siap saji varian Chocolate, Cappuccino, Taro, Avocado, hingga Oreo. Seiring waktu, ia melihat peluang lebih besar pada produk bubuk cokelat kemasan yang bisa dijual lebih luas.
Dari situ, Zdrink mulai memproduksi minuman cokelat instan berbahan baku kakao pilihan khas Lampung. Produk ini dipasarkan secara luring di Jakarta Barat dan daring melalui platform e-commerce.
Untuk memperluas skala bisnis, Redi mencari pendampingan usaha. Informasi tentang program BRI didapatnya dari Instagram. Ia kemudian bergabung dengan platform LinkUMKM dan mengikuti pelatihan BRIncubator.
Lewat program ini, Zdrink mendapatkan akses pelatihan manajemen usaha, strategi pemasaran digital, hingga perluasan jaringan distribusi. Redi mengaku pendampingan itu membantunya mengelola stok bahan baku kakao dari Lampung lebih efisien.
“Setelah ikut program BRI, saya bisa menyusun strategi harga dan kemasan yang lebih kompetitif. Penjualan produk bubuk cokelat naik signifikan,” kata Redi.
Kisah Zdrink menjadi bukti bahwa program pemberdayaan UMKM BRI tidak sekadar memberikan modal. Pendampingan berkelanjutan seperti BRIncubator membantu pelaku usaha mikro mengatasi masalah produksi dan pemasaran.
BRI sendiri terus memperkuat ekosistem LinkUMKM sebagai platform digital yang menghubungkan UMKM dengan akses pembiayaan, pelatihan, dan pasar. Hingga saat ini, ribuan pelaku usaha mikro telah tergabung dalam program tersebut.
Redi punya rencana besar ke depan. Ia ingin memperluas jangkauan pemasaran Zdrink ke luar Jawa dan menambah varian rasa baru. “Target saya, produk ini bisa masuk ke minimarket dan hotel-hotel di Lampung sebagai oleh-oleh khas daerah,” pungkasnya.