LEBAK — Arpi (45) dan istrinya, Rabaya (46), warga Kampung Dungkuk, Desa Cirinten, Kecamatan Cirinten, tak punya pilihan selain bertahan di rumah berdinding anyaman bambu yang sudah bolong di banyak sisi. Lantai tanah membuat rumah becek saat hujan dan berdebu saat kemarau.
“Kalau hujan deras, air masuk ke dalam rumah karena banyak bagian dinding yang sudah bolong. Kami sering khawatir rumah ini ambruk,” ujar Arpi kepada wartawan, Sabtu (16/5/2026).
Ketika hujan lebat disertai angin kencang, keluarga ini tak punya pilihan selain mengungsi sementara ke rumah kerabat yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Langkah itu diambil semata demi keselamatan.
“Kalau hujan besar, kami biasanya pindah sementara ke rumah saudara karena takut rumah roboh,” kata Arpi.
Rabaya, suami Arpi, bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang tak menentu. Kondisi ekonomi keluarga membuat mereka tak mampu memperbaiki rumah, apalagi memenuhi kebutuhan pendidikan anak.
Arpi mengaku sedih karena anaknya belum bisa melanjutkan sekolah. Meski biaya pendidikan dasar gratis, perlengkapan seperti seragam, buku, alat tulis, dan sepatu masih menjadi beban yang tak terjangkau.
“Sekolah memang gratis, tapi kebutuhan lainnya kami belum sanggup memenuhi,” tuturnya.
Hingga kini, Arpi mengaku belum pernah menerima bantuan perbaikan rumah dari pemerintah. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah daerah maupun pihak terkait agar keluarganya bisa tinggal di tempat yang lebih layak dan anaknya bisa kembali bersekolah.
“Kami hanya ingin rumah yang layak dan anak bisa sekolah seperti anak-anak lainnya,” ucapnya penuh harap.