BANTEN — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah 0,28% ke level Rp 18.133 per US$ pada perdagangan pasar spot Jumat (6/11/2026) pukul 11:52 WIB. Pelemahan mata uang Nusantara berbarengan dengan ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 1,97% ke 4.931,39 pada penutupan Sesi I.
Rupiah sudah berada di zona merah sejak pembukaan pasar. Alih-alih menemukan titik stabil, tekanan jual justru membuat pelemahannya makin dalam hingga siang.
Pergerakan rupiah tampak mengekor apa yang terjadi di pasar saham. Pada penutupan Sesi I, IHSG jatuh 1,97% ke 4.931,39, mencerminkan aksi lepas aset berisiko oleh investor.
Tekanan tidak berhenti di pasar domestik. Indeks MSCI Asia Pasifik rontok hampir 4% dan menyeret mayoritas bursa kawasan ke zona merah.
Nikkei 225 Jepang menjadi yang paling parah dengan ambruk lebih dari 6%. Koreksi harian itu tercatat sebagai yang terdalam sejak April tahun lalu.
Ambruknya bursa Jepang dan kawasan Asia Pasifik memberi sinyal bahwa sentimen global sedang tidak bersahabat. Arus dana asing yang keluar dari aset berisiko di kawasan berkembang, termasuk Indonesia, menjadi pemicu utama pelemahan rupiah.
Bagi investor, kombinasi rupiah di atas Rp 18.100 per US$ dan IHSG yang jatuh mendekati 2% menandakan tekanan ganda pada portofolio. Saham-saham berorientasi domestik dan emiten dengan utang valas menjadi yang paling rentan.
Pelaku bisnis yang bergantung pada bahan baku impor perlu mencermati pergerakan kurs sepanjang sisa sesi. Setiap pelemahan tambahan langsung menaikkan biaya produksi dan menekan margin.
Sebaliknya, eksportir berpeluang menikmati windfall dari kurs yang lebih lemah. Namun, peluang itu bergantung pada seberapa dalam koreksi pasar saham berlanjut ke sesi II.
Pasar akan menanti apakah rupiah mampu menahan level Rp 18.100 per US$ hingga penutupan. Kegagalan bertahan di level itu berpotensi membuka ruang pelemahan lebih lanjut.
Perhatian juga tertuju pada laju IHSG di Sesi II. Bila tekanan jual mereda, ruang rebound teknikal terbuka. Sebaliknya, koreksi yang berlanjut akan memperbesar tekanan terhadap kurs.
Sentimen dari bursa Asia, terutama Nikkei, tetap menjadi faktor penentu. Selama kawasan masih tertekan, rupiah sulit menemukan momentum penguatan.