SERANG — Pemimpin Redaksi Radar Banten Aditya Ramadhan menyebut perjalanan Provinsi Banten dan koran tempatnya bekerja sebagai dua entitas sebaya yang tumbuh hampir bersamaan. Ungkapan luhur "Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salebak" dipakai untuk menggambarkan semangat kebersamaan itu: ke mana pun pergi, dalam keadaan apa pun, tetap bersama dan saling menguatkan.
Radar Banten pertama kali terbit pada 2 Juni 2000. Provinsi Banten resmi berdiri pada 4 Oktober 2000, hanya beberapa bulan setelah koran itu hadir di tengah masyarakat.
Pada tahun 2000, lalu lintas di Banten belum sepadat hari ini. Teknologi informasi belum masuk ke hampir setiap sudut kehidupan. Berita tentang Banten pun masih sangat terbatas dibandingkan sekarang.
Di tengah lanskap itulah gagasan tentang Banten sebagai sebuah provinsi diperjuangkan banyak orang dari berbagai profesi dan kalangan. Ada tokoh yang bergerak melalui jalur politik, ada kelompok masyarakat yang menyampaikan aspirasi, ada ribuan mahasiswa yang bersuara.
Radar Banten hadir dan mencatat semua itu ketika ceritanya sedang berlangsung. Wartawan menemui kelompok masyarakat, menggali aspirasi, dan memberitakan perjuangan pembentukan Provinsi Banten kepada publik.
Dua puluh enam tahun kemudian, wajah Banten jauh berubah. Jalan semakin panjang, kota semakin ramai, kawasan industri berkembang, perguruan tinggi bertambah, dan investasi bergerak. Pemerintahan daerah pun terus berusaha menjawab persoalan yang semakin kompleks.
Radar Banten berubah bersama zamannya. Dari koran yang dahulu hadir di pagi hari, kini pemberitaan Banten bergerak melalui media daring, media sosial, dan berbagai kanal informasi. Masyarakat bisa mengetahui sebuah peristiwa hampir seketika setelah terjadi.
Namun ada satu hal yang tidak berubah: masyarakat tetap ingin didengar.
Di balik berita tentang jalan rusak, ada warga yang setiap hari melewatinya. Di balik berita tentang banjir, ada keluarga yang harus menyelamatkan barang-barangnya. Di balik berita tentang sekolah atau pelayanan kesehatan, ada orang tua yang sedang berharap pemerintah memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
Aditya menegaskan bahwa kerja jurnalistik para wartawan Radar bukan hanya soal menemukan berita. Ada pekerjaan yang jauh lebih sederhana, tetapi sering kali lebih penting: duduk, mendengar, bertanya, memahami, lalu membawa cerita masyarakat itu ke ruang publik.
Di balik sebuah kebijakan, ada perencanaan, anggaran, kewenangan, keterbatasan, dan tanggung jawab yang tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui satu berita. Pemerintah Provinsi Banten membutuhkan ruang untuk menjelaskan apa yang sedang dikerjakan, sementara masyarakat membutuhkan pers untuk membantu memahami sekaligus mengawasi.
"Media tidak harus selalu memuji pemerintah. Pemerintah juga tidak perlu alergi terhadap kritik," tulis Aditya dalam artikel refleksi 26 tahun Radar Banten.
Kritik yang disampaikan dengan catatan, data, dan niat memperbaiki dinilai dapat menjadi teman perjalanan bagi sebuah pemerintahan. Sebaliknya, pers juga perlu memiliki keberanian untuk mengabarkan keberhasilan pemerintah secara jujur.
Aditya mengingatkan agar media tidak terlalu sibuk mencari kekurangan hingga lupa bahwa di banyak tempat terdapat aparatur yang bekerja sungguh-sungguh. Ada program yang memberikan manfaat, ada masyarakat yang merasakan perubahan, tetapi jarang mendapatkan ruang pemberitaan.
Bagi Aditya, sinergi bukan berarti pemerintah dan media harus selalu sepakat. Melainkan keduanya mampu menjalankan peran masing-masing dengan tetap membuka ruang dialog, kritik, koreksi, dan apresiasi.
Perjalanan 26 tahun Provinsi Banten dan Radar Banten disebutnya sebagai cerita besar yang melibatkan Pemerintah Provinsi Banten, seluruh pemerintah kabupaten dan kota, serta masyarakat Banten yang ikut menjadi bagian di dalamnya.