Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Sosial memulai program Sekolah Rakyat di Panggarangan dengan melibatkan 270 siswa dari keluarga miskin ekstrem. Gedung permanen seluas 8,8 hektare itu disiapkan untuk memutus mata rantai kemiskinan lewat pendidikan gratis berasrama. Para siswa sudah menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebelum mengikuti pra masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
LEBAK — Program Sekolah Rakyat di Kabupaten Lebak memasuki tahap awal dengan digelarnya pra MPLS bagi 270 siswa di gedung permanen baru, Panggarangan, Senin. Mereka berasal dari keluarga kategori miskin dan miskin ekstrem Desil 1 dan Desil 2 sesuai Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Sekolah ini dirancang sebagai institusi pendidikan gratis berasrama yang diharapkan menjadi jembatan keluar dari kemiskinan bagi anak-anak Banten selatan.
Kepala Pelaksana Tugas Dinas Sosial Kabupaten Lebak, Lela Gifty Cleria, menyebut Sekolah Rakyat Panggarangan dirancang menyeluruh. Selain ruang belajar, tersedia asrama, gedung serbaguna, dapur, kantin, rumah ibadah, dan lapangan olahraga dalam satu kawasan.
Gedung permanen ini masih dalam penyelesaian akhir. "Penyelesaian gedung permanen baru sekitar 98 persen dan tinggal melakukan finishing," kata Lela di Lebak, Senin.
Proses MPLS bagi siswa tahun ajaran 2026/2027 kemungkinan besar baru dilaksanakan pada pertengahan September 2026.
Komposisi siswa baru terdiri dari 30 siswa jenjang SD, 120 siswa SMP, dan 120 siswa SMA. Seluruhnya telah melalui pemeriksaan CKG yang melibatkan tenaga medis Puskesmas Panggarangan sebagai syarat masuk sekolah.
Tahun ajaran 2026/2027 menjadi momentum pertama operasional gedung permanen. Sebelumnya, pada tahun ajaran 2025/2026, Sekolah Rakyat menampung 200 siswa.
Gedung baru ini dirancang dengan kapasitas hingga 1.000 siswa. Lela optimistis Sekolah Rakyat Panggarangan mampu melahirkan generasi berprestasi dan mandiri, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming.
"Kami berharap ke depan peserta didik Sekolah Rakyat dapat memutus mata rantai kemiskinan," ujarnya.
Yani, warga Malingping, mengaku bangga anaknya diterima di jenjang SMA Sekolah Rakyat Panggarangan. Buruh tani itu berharap anak keduanya dari lima bersaudara bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
"Kami berharap anak kedua dari lima bersaudara itu bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi, sehingga bisa mengubah kehidupan yang lebih baik," kata Yani.