BANTEN — Hasil itu diumumkan pada sidang pleno yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang. Penetapan dilakukan setelah anggota Ahlul Halil Wal Aqdi (AHWA) menggelar musyawarah tertutup di sela-sela muktamar.
"Anggota Ahlul Halil Wal Aqdi (AHWA) memutuskan secara mufakat untuk memilih KH Abdul Hakim atau sehari-hari disebut Gus Kikin menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2026-2031," kata KH Anwar Iskandar dalam pembacaan hasil sidang.
Presiden tiba di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, sekitar pukul 09.30 WIB. Ia melanjutkan perjalanan darat ke lokasi muktamar membawa rombongan terbatas.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya turut mendampingi presiden sejak dari Jakarta.
Sejak pembukaan Jumat (27/8), Prabowo sudah menyampaikan pandangannya tentang posisi NU. Menurut dia, organisasi ini merupakan institusi bersejarah yang memiliki jasa besar dalam perjuangan kemerdekaan bangsa.
Kehadiran presiden pada dua momen penting muktamar — pembukaan dan penutupan — lazim dibaca sebagai sinyal penguatan relasi pemerintah dengan ormas Islam. Di tengah dinamika politik nasional, NU tetap menjadi mitra strategis dalam menjaga stabilitas sosial.
Proses pemilihan ketua melalui dua tahap. Pertama, para muktamirin memilih melalui pemungutan suara untuk menyaring lima besar calon ketua umum.
Pada tahap itu, Gus Kikin meraih peringkat pertama dengan 472 suara. Selanjutnya, AHWA mengambil alih dan memutuskan secara mufakat tanpa mekanisme voting tambahan.
Gus Kikin dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren dan kader NU yang lama berkecimpung di jajaran pengurus pusat. Ia menggantikan KH Yahya Cholil Staquf yang memimpin periode sebelumnya.
Kepemimpinan baru diharapkan melanjutkan program prioritas NU di bidang pendidikan, ekonomi umat, dan pemeliharaan tradisi pesantren. Di bawah Gus Kikin, ormas ini juga akan menghadapi ujian menjaga relevansi di tengah perubahan sosial dan politik yang cepat.
Muktamar kali ini menegaskan bahwa NU tetap mampu memilih pemimpin melalui proses yang tertib dan mufakat. Penutupan yang dihadiri presiden menutup rangkaian acara yang berlangsung selama lima hari dengan agenda yang padat.