BANTEN — Sarajevo Film Festival edisi ke-31 resmi berlangsung pada 14–21 Agustus 2025. Salah satu film yang paling dinantikan dalam kompetisi utama adalah “Shame and Money,” karya sutradara Visar Morina yang baru saja memenangkan penghargaan tertinggi di Sundance Film Festival awal tahun ini.
Bagi Morina, Sarajevo punya tempat spesial. Film sebelumnya, “Exile,” pernah membawa pulang penghargaan utama di festival yang sama pada 2020. Kini ia kembali dengan cerita yang lebih tajam tentang tekanan ekonomi dan perpecahan kelas sosial.
“Shame and Money” mengikuti kehidupan Shaban (Astrit Kabashi) dan Hatixhe (Flonja Kodheli), pasangan berusia empat puluhan yang tinggal bersama keluarga besar di pedesaan Kosovo. Mereka menggantungkan hidup dari hasil bertani, sampai sebuah pertengkaran keluarga berujung pengkhianatan dan merampas mata pencaharian mereka.
Terpaksa pindah ke Pristina, ibu kota Kosovo, Shaban dan Hatixhe harus berjuang mencari pekerjaan kasar untuk bertahan. Tekanan hidup di kota yang menganut kapitalisme ketat itu perlahan menghancurkan mental Shaban, yang akhirnya diterima bekerja sebagai satpam malam di kompleks perumahan elite—dengan tugas yang ironis: menjaga warga kaya dari orang-orang miskin seperti dirinya.
Meski berlatar Kosovo, Morina menegaskan film ini bukan hanya soal negaranya. Ia melihat “Shame and Money” sebagai cermin bagi seluruh Eropa yang kini dilanda kenaikan biaya hidup, krisis perumahan, dan kesenjangan ekonomi yang melebar.
“Kami sebenarnya sampai pada titik di Jerman yang terasa seperti menuju situasi seperti di Kosovo,” ujar Morina. “Ini adalah pandangan ke masa lalu sekaligus peringatan untuk masa depan.”
Kritikus film Variety, Guy Lodge, menyebut film ini sebagai “potret yang tajam tentang keluarga Kosovo yang terpecah oleh kelas,” dengan penggambaran yang “tabah dan perlahan melukai” tentang eksploitasi ekonomi di Eropa kontemporer.
Morina mengaku sebuah kalimat dari pria Kosovo pernah melekat kuat padanya: “Saat kamu bangkrut, bahkan ibumu tidak menyayangimu.” Frasa itu, katanya, menjadi inti dari seluruh film.
“Saya benar-benar percaya manusia hanya bisa menahan penderitaan sampai batas tertentu. Pada satu titik, mereka akan gila. Ada istilah Jerman, sozialer Frieden—harmoni sosial. Saya pikir ada titik di mana tidak ada jalan kembali,” tambahnya.
Naskah film ini ditulis oleh Morina bersama Doruntina Basha. Produksinya melibatkan Schuldenberg Films, Eagle Eye Films, Vertigo Ljubljana, On Film Production, List Production, dan Quetzalcoatl. Penjualan internasional ditangani oleh The Yellow Affair dan Espoo.
Dengan dua film terakhirnya, Morina konsisten mengangkat kisah orang-orang yang terpinggirkan—imigran di “Exile” dan kelas bawah di “Shame and Money.” Di tengah dunia yang baru saja menyaksikan kelahiran triliuner pertama dan kaum elite yang membangun bunker bawah tanah, film ini menjadi pengingat keras tentang arah yang sedang dituju masyarakat.