BANTEN — Laga final yang berlangsung di Lusail Iconic Stadium, Minggu (19/7/2026), berjalan sengit sejak menit awal. Namun, petaka menghampiri La Albiceleste saat wasit mengeluarkan kartu merah langsung untuk Fernandez pada menit ke-28.
Enzo Fernandez dianggap melakukan pelanggaran keras terhadap gelandang Spanyol, Pedri, saat berebut bola di tengah lapangan. Wasit asal Italia, Daniele Orsato, tidak ragu mengeluarkan kartu merah setelah berkonsultasi dengan VAR.
Keputusan itu langsung membuat Argentina bermain dengan 10 orang selama lebih dari 60 menit. Spanyol pun memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk mendominasi penguasaan bola dan menekan pertahanan Argentina.
Gol pembuka Spanyol lahir dari skema tendangan bebas pada menit ke-38. Lamine Yamal sukses menanduk bola hasil umpan silang Dani Olmo yang tak mampu diantisipasi kiper Emiliano Martinez.
Di babak kedua, tekanan Spanyol semakin menjadi. Gol kedua datang dari kaki Nico Williams pada menit ke-67, memanfaatkan celah di sisi kiri pertahanan Argentina yang kewalahan. Skor 2-0 bertahan hingga laga usai.
Kekalahan ini memupus ambisi Argentina untuk mempertahankan gelar juara dunia. Padahal, Lionel Messi dan kolega tampil impresif sepanjang turnamen dengan catatan tak terkalahkan sebelum final.
Bagi Enzo Fernandez, kartu merah ini menjadi noda hitam di kariernya. Gelandang Chelsea itu sebelumnya menjadi pilar penting di lini tengah Argentina dengan akurasi umpan mencapai 89 persen selama turnamen.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, enggan menyalahkan Fernandez secara langsung. "Kami semua kecewa. Kartu merah itu keputusan berat, tapi kami harus menerimanya. Tim sudah berjuang maksimal dengan 10 pemain," ujarnya dalam konferensi pers usai laga.
Sementara itu, kapten Argentina Lionel Messi hanya bisa pasrah. "Ini pahit. Sangat pahit. Kami datang untuk juara, tapi satu momen menghancurkan segalanya. Selamat untuk Spanyol," kata Messi singkat.
Kekalahan ini menjadi evaluasi besar bagi Argentina. Dengan skuad yang mulai menua—Messi kini berusia 39 tahun—regenerasi menjadi tantangan utama. Pertandingan selanjutnya di ajang Copa America 2027 akan menjadi ujian nyata bagi Scaloni untuk membangun ulang kepercayaan diri tim.