BANTEN — Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda nyaris tak bergerak dari posisi penutupan sebelumnya. Pergerakan ini kontras dengan sejumlah mata uang Asia lainnya yang justru menunjukkan penguatan, seperti peso Filipina yang naik 0,07% dan ringgit Malaysia yang terapresiasi 0,13%. Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,16% terhadap dolar AS.
Dua kekuatan berlawanan kini tengah menarik pergerakan rupiah. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa data inflasi produsen AS yang lebih rendah dari perkiraan pasar menjadi katalis positif. Data itu memicu pelemahan dolar AS secara umum, memberi ruang bagi rupiah untuk menguat.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang kembali melemah setelah data inflasi produsen AS lebih lemah dari perkiraan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Namun, potensi penguatan itu tertahan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Situasi geopolitik yang tidak menentu mendorong investor global beralih ke aset safe haven, termasuk dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang seperti Indonesia.
Di kubu negara maju, pergerakan mata uang juga menunjukkan variasi. Euro menjadi satu-satunya mata uang utama yang berhasil menguat, yakni sebesar 0,01% terhadap dolar AS. Sebaliknya, poundsterling Inggris melemah 0,11%, dolar Australia turun 0,18%, dan franc Swiss terkoreksi 0,05%.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Level Rp18.000 menjadi support psikologis yang krusial. Jika sentimen geopolitik mereda dan data ekonomi AS terus menunjukkan pelemahan, bukan tidak mungkin rupiah kembali menguji level tersebut.
Sebaliknya, jika ketegangan di Timur Tengah meningkat, tekanan jual terhadap rupiah bisa membawanya menuju level tertinggi di kisaran Rp18.100. Investor dan pelaku bisnis disarankan mencermati perkembangan data tenaga kerja AS yang akan dirilis akhir pekan ini sebagai penentu arah selanjutnya.