BANTEN — Kenaikan suku bunga BI dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen dalam dua bulan terakhir memang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi industri otomotif. Pasalnya, mayoritas pembelian mobil baru di Indonesia dilakukan melalui skema kredit yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga acuan. Namun, Gaikindo menegaskan bahwa para produsen anggota tidak serta-merta bereaksi dengan mengubah strategi penjualan secara drastis.
Kukuh Kumara menjelaskan bahwa selain suku bunga, industri otomotif juga dihadapkan pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan tensi geopolitik global. Menurutnya, jika produsen langsung melakukan penyesuaian harga atau skema kredit, dampaknya bisa kontraproduktif.
"Kita was-was, kita hati-hati. Jika langsung dilakukan adjustment, dampaknya akan luar biasa. Konsumen potensial bisa cenderung 'ya sudah lah nanti saja', hold dulu," ujar Kukuh dalam tayangan video di CNBC Indonesia, Rabu (15/7).
Ia menambahkan, kekhawatiran terbesar adalah konsumen yang menunda pembelian bisa bertahan hingga dua hingga empat bulan. Hal ini justru akan membuat produsen kehilangan momentum penjualan yang sudah direncanakan.
Kukuh mengidentifikasi dua segmen yang paling rentan terhadap kenaikan suku bunga. Pertama adalah mobil penumpang di bawah Rp300 juta yang disebutnya sangat sensitif terhadap harga. Kedua adalah kendaraan komersial, di mana kebutuhan bisnis untuk angkut barang tidak bisa ditunda sehingga pembelian tetap harus dipenuhi meski cicilan lebih mahal.
Meskipun ada berbagai tekanan, Gaikindo memutuskan untuk tidak mengubah target penjualan tahun ini yang masih bertahan di angka 850 ribu unit. "Sampai saat ini kita tidak mengubah target itu," tegas Kukuh.
Keputusan ini diambil dengan pertimbangan bahwa Gaikindo dan para anggotanya telah berpengalaman lebih dari 60 tahun menghadapi naik turunnya ekonomi di Indonesia. Alih-alih reaktif, pendekatan yang dipilih adalah menerima kondisi saat ini sambil berharap situasi cepat membaik.