LEBAK — Kepala Perum Bulog Cabang Lebak dan Pandeglang Muhammad Syaukani mengungkapkan, pihaknya masih gencar melakukan penyerapan gabah dari sejumlah daerah yang tengah memasuki musim panen. Stok yang ada saat ini merupakan hasil panen petani setempat sejak 2025 hingga 2026, yang membuktikan kemampuan swasembada pangan tanpa impor.
“Kami menjamin persediaan beras melimpah dan relatif aman untuk kebutuhan konsumsi masyarakat,” kata Syaukani di Lebak, Banten, Minggu.
Stok beras di gudang Bulog ini dialokasikan untuk memenuhi Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Pendistribusiannya mencakup bantuan pangan yang digulirkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) mulai akhir Juli hingga Desember 2026 mendatang.
Selain itu, beras juga disalurkan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Beras SPHP dijual ke toko, pasar tradisional, Gerakan Pangan Murah (GPM), instansi TNI-Polri, Dinas Ketahanan Pangan (DKP), hingga Rumah Pangan Kita (RPK).
Masyarakat atau pedagang yang ingin membeli beras SPHP dari Bulog harus memenuhi persyaratan administratif. Syarat tersebut meliputi KTP, NPWP, NIB, serta toko yang dilengkapi visual.
Menariknya, kualitas beras dari petani Lebak dan Pandeglang diakui cukup baik. Hasil panen lokal ini justru menjadi rebutan pedagang besar dari Jakarta dan Jawa Barat.
Bulog mencatat, penyerapan Gabah Kering Panen (GKP) dari petani hingga Juni 2026 mencapai 40.000 ton. Angka ini melampaui target awal sebesar 37.500 ton, atau mencapai 103 persen.
Dengan stok yang melimpah, Bulog memastikan pasokan beras tetap aman meski menghadapi musim kemarau atau fenomena El Nino. “Kita hingga kini terus mengoptimalkan penyerapan gabah dan beras hingga akhir tahun,” ujar Syaukani.