Overthinking Bisa Picu GERD Kambuh? Dokter Eka Hospital Cilegon Ungkap Lingkaran Setan Stres dan Asam Lambung

Penulis: Ramli Siregar  •  Selasa, 30 Juni 2026 | 16:27:31 WIB
Dokter Eka Hospital Cilegon jelaskan kaitan antara stres dan kekambuhan GERD.

CILEGON — Hubungan antara kesehatan mental dan lambung ternyata lebih erat dari yang dibayangkan. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Eka Hospital Cilegon, dr. Fachrial Imam, Sp.PD, mengungkapkan bahwa pasien GERD sering datang dengan keluhan yang kambuh tepat saat menghadapi tekanan pekerjaan atau masalah pribadi.

“Banyak pasien datang dengan keluhan GERD yang sering kambuh saat sedang mengalami tekanan pekerjaan atau masalah pribadi. Karena itu, penanganan GERD tidak hanya berfokus pada obat-obatan, tetapi juga perubahan gaya hidup dan pengelolaan stres yang baik,” ujar dr. Fachrial kepada Fakta Banten, Selasa (30/6/2026).

Lingkaran Setan Stres dan Asam Lambung

Saat seseorang overthinking, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Lonjakan ini memicu tiga perubahan negatif pada sistem pencernaan: produksi asam lambung meningkat, proses pencernaan melambat, dan saluran cerna jadi lebih sensitif terhadap rasa nyeri.

Masalahnya, gejala fisik GERD yang muncul—seperti heartburn atau sensasi mengganjal di tenggorokan—justru menimbulkan rasa cemas dan takut. Rasa cemas itu kemudian memicu stres yang membuat gejala semakin parah. Inilah yang disebut dr. Fachrial sebagai lingkaran setan.

Selain faktor hormonal, orang yang sedang dilanda overthinking cenderung mengabaikan pola hidup sehat. Makan tidak teratur, kurang tidur, hingga konsumsi kopi atau camilan tidak sehat secara berlebihan menjadi pemicu utama kekambuhan GERD.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Masyarakat diimbau mengenali gejala GERD berikut agar penanganan bisa dilakukan lebih dini:

  • Sensasi terbakar atau panas di dada (heartburn) hingga ulu hati
  • Rasa asam atau pahit yang naik ke tenggorokan
  • Sering bersendawa, perut terasa penuh, atau kembung
  • Mual setelah makan
  • Batuk kronis terutama pada malam hari dan suara serak
  • Sensasi mengganjal di tenggorokan hingga gangguan tidur

Panduan Makan: Apa yang Ramah dan Apa yang Pantang?

Pola makan memegang peranan krusial dalam meredakan gejala lambung. dr. Fachrial membagikan panduan makanan yang direkomendasikan: karbohidrat kompleks seperti oatmeal, nasi merah, dan kentang rebus; protein rendah lemak seperti dada ayam tanpa kulit, tahu, dan tempe; sayuran non-asam seperti brokoli, wortel, dan bayam; serta buah non-sitrus seperti pisang, melon, dan pepaya.

Sementara itu, makanan dan minuman yang sebaiknya dibatasi meliputi makanan pedas, tinggi lemak, gorengan, dan fast food. Kopi, teh, cokelat, minuman bersoda, serta buah asam seperti jeruk dan lemon juga masuk daftar pantangan. “Pemicu setiap individu bisa berbeda, penting untuk mengenali tubuh masing-masing,” kata dr. Fachrial.

Kelola Stres untuk Sembuhkan Lambung

Karena kesehatan mental dan pencernaan saling bertaut, pengelolaan stres menjadi kunci kesembuhan. Beberapa aktivitas ringan yang disarankan untuk meredakan overthinking meliputi berjalan santai di alam terbuka, olahraga intensitas ringan-sedang, melatih pernapasan atau meditasi, menulis jurnal untuk mengurai pikiran, serta menjaga kualitas tidur dan membatasi paparan media sosial.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan medis jika gejala GERD muncul lebih dari dua kali dalam seminggu, disertai kesulitan menelan, penurunan berat badan drastis tanpa sebab jelas, muntah berulang, atau nyeri dada yang terasa sangat berat.

Eka Hospital Cilegon menyediakan layanan konsultasi Spesialis Penyakit Dalam dengan pendekatan menyeluruh—bukan sekadar terapi obat, tetapi juga edukasi perubahan pola hidup demi keseimbangan fisik dan mental.

Reporter: Ramli Siregar
Sumber: faktabanten.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top