BANTEN — Bakti Olahraga Djarum Foundation menggagas trilogi turnamen ini untuk merangkai tiga jenjang kompetisi sekaligus: usia dini, remaja, dan internasional. MilkLife Soccer Challenge All Stars 2026 yang baru usai mempertandingkan kelompok usia KU10 dan KU12. Selanjutnya, Hydroplus Soccer League All Stars 2026 pada 5-12 Juli akan mempertemukan delapan tim U-15 dan delapan tim U-18—mereka adalah juara dan runner-up dari seri regional di empat kota.
Puncak dari trilogi ini adalah Srikandi Merdeka Cup pada 14-23 Agustus 2026. Pemain-pemain terbaik dari Hydroplus Soccer League akan dipilih untuk bergabung dalam dua tim yang mewakili Indonesia. Mereka akan menghadapi enam negara: Malaysia, Thailand, Filipina, Singapura, Arab Saudi, dan Yordania.
Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, menjelaskan bahwa trilogi ini merupakan pelengkap ekosistem yang sudah dibangun. "Kalau sudah berjenjang, tinggal satu lagi, yaitu tingkat internasional. Kami membuat Srikandi Merdeka Cup sebagai persiapan bagi anak-anak itu nantinya menuju Timnas Indonesia," ujarnya.
Program Director MilkLife Soccer Challenge dan Hydroplus Soccer League, Teddy Tjahjono, menekankan bahwa output utama dari rangkaian ini bukan sekadar trofi. "Kami ingin memberikan pengalaman yang paling penting kepada adik-adik kita, jam terbang untuk terus bermain sepak bola," katanya.
Menurut Teddy, momen terbesar adalah ketika pemain terpilih mengenakan jersey Timnas Indonesia dan bertanding melawan tim asing. "Kami membayangkan itu sebagai pengalaman berharga, menjadi bekal bagi masa depan mereka untuk terus bermain sepak bola," lanjutnya.
Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Jacksen F Tiago, menilai rangkaian tiga turnamen ini bisa menjadi inspirasi yang menjangkau lebih luas. "Potensi yang ada di sana sangat luar biasa," ujar pelatih asal Brasil itu.
Sementara itu, Timo Scheunemann, juga Head Coach MilkLife Soccer Challenge, melihat dampak langsung pada orang tua pemain. Dengan adanya jalur dari MilkLife Soccer Challenge (U-10 dan U-12), Hydroplus Soccer League (U-15 dan U-18), hingga ke timnas U-17, orang tua kini punya gambaran jelas. "Jadi orang tua sudah paham ada jalur seperti itu dan berpikir 'worth it anak saya main di sepak bola putri'," kata pelatih berdarah Jerman kelahiran Kediri itu.
Women's Soccer Trilogy di Kudus berlangsung tiga bulan beruntun tanpa jeda. Bagi pegiat sepak bola putri, ini bukan sekadar pesta—ini cetak biru pembinaan yang selama ini dinanti.