TANGERANG — Keputusan memusatkan layanan penerbangan umrah di satu terminal bukanlah hal baru di Bandara Soekarno-Hatta. Sejak 2022, Terminal 2F telah menjadi proyek percontohan yang melayani penerbangan charter umrah Lion Air. Kini, setelah bertahun-tahun melalui berbagai penyempurnaan fasilitas dan skema operasional, terminal seluas 27.418 meter persegi itu resmi ditetapkan sebagai pusat keberangkatan jamaah umrah rombongan secara penuh.
General Manager Bandara Soekarno-Hatta Heru Karyadi menjelaskan, kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Nomor SE-DJPU 12 Tahun 2026. Tahapan transisi yang panjang—dari uji coba charter Lion Air pada 2022 hingga layanan Garuda Indonesia pada 2025—menunjukkan bahwa pemusatan ini membutuhkan kesiapan infrastruktur dan koordinasi lintas pemangku kepentingan.
"Kami ingin memastikan setiap jamaah memperoleh pelayanan terbaik sejak awal perjalanan ibadahnya," kata Heru di Tangerang, Jumat.
Terminal 2F dirancang berbeda dari terminal reguler. Tidak ada penumpang umum di terminal ini, sehingga seluruh petugas bandara dapat fokus melayani jamaah haji dan umrah. Sebanyak 20 konter check-in khusus disiapkan, memisahkan proses pelaporan keberangkatan dan drop baggage jamaah dari penumpang reguler.
Ruang tunggu berkapasitas hingga 3.000 orang dan masjid seluas 3.136 meter persegi yang mampu menampung sekitar 1.000 jamaah juga disediakan. Fasilitas ini, menurut Heru, dirancang untuk mengakomodasi keluarga pengantar yang biasanya ikut mengantar hingga ke area tunggu.
Penerapan dilakukan secara bertahap untuk memastikan transisi operasional berjalan mulus. Berikut jadwal lengkapnya:
Heru menambahkan, tahapan ini memberi waktu bagi maskapai, Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), dan regulator untuk menyesuaikan proses pelayanan. "Kami terus berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan setiap tahapan dapat berjalan dengan baik," ujarnya.
Kebijakan ini mengubah kebiasaan lama di mana jamaah umrah berangkat dari berbagai terminal tergantung maskapai. Dengan pemusatan di Terminal 2F, proses keberangkatan diharapkan lebih cepat karena antrean check-in terpisah dan area tunggu lebih luas. Namun, jamaah dan keluarga pengantar perlu menyesuaikan titik kumpul dan akses transportasi menuju terminal khusus tersebut.
Bagi PPIU, pemusatan ini menyederhanakan logistik pengantaran jamaah. Sebelumnya, agen perjalanan harus memastikan jamaah tiba di terminal yang benar sesuai maskapai—kini semua terpusat di satu titik.
Setelah seluruh maskapai beroperasi penuh di Terminal 2F pada pertengahan Juli 2026, InJourney Airports akan mengevaluasi kapasitas dan alur pergerakan jamaah. Jika terbukti efektif, terminal ini berpotensi menjadi model bagi bandara-bandara lain di Indonesia yang melayani penerbangan umrah dan haji. Heru menyebut, penyempurnaan fasilitas akan terus dilakukan secara berkala.