BANTEN — Rombongan Pengurus Besar Ikatan Keluarga Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa (PB IKA BEM Nusantara) pada awal pekan ini menggelar agenda pertemuan dengan dua tokoh nasional secara beruntun. Setelah berkunjung ke kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo, rombongan pada hari ini dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Jakarta.
Pertemuan dengan Gibran Rakabuming berlangsung di Kantor Wakil Presiden, Jakarta. Adapun pertemuan dengan Jokowi—sapaan akrab Joko Widodo—dilangsungkan di rumah pribadinya di Solo, Jawa Tengah, sehari sebelumnya.
Ketua Umum PB IKA BEM Nusantara, Muhammad Fadhil, menyatakan kunjungan ini merupakan bagian dari konsolidasi organisasi dan silaturahmi dengan para pemimpin nasional. "Kami ingin menyampaikan aspirasi dari kader-kader BEM di seluruh Indonesia serta menjalin komunikasi langsung," ujarnya dalam keterangan pers.
Dalam pertemuan dengan Jokowi, rombongan membahas sejumlah isu strategis kebangsaan, termasuk kondisi sosial-politik terkini dan peran mahasiswa dalam pembangunan. Jokowi, menurut Fadhil, memberikan sejumlah wejangan terkait kepemimpinan dan pentingnya menjaga persatuan.
Sementara itu, pertemuan dengan Wapres Gibran disebut akan membahas tindak lanjut dari diskusi sebelumnya. "Kami akan menyampaikan secara langsung kepada Pak Wapres apa yang menjadi perhatian kami, terutama soal keterlibatan generasi muda dalam pemerintahan," tambah Fadhil.
IKA BEM Nusantara merupakan organisasi alumni yang mewadahi mantan pengurus BEM dari berbagai universitas di Indonesia. Organisasi ini kerap menjadi jembatan antara dunia kampus dan para pengambil kebijakan di tingkat nasional.
Pertemuan dengan Jokowi dan Gibran dalam waktu berdekatan menunjukkan relasi khusus yang dibangun organisasi ini dengan lingkaran kekuasaan. Baik Jokowi maupun Gibran merupakan figur yang dekat dengan kalangan mahasiswa dan alumni BEM selama masa kepemimpinan mereka.
Belum ada pernyataan resmi dari pihak Wakil Presiden terkait agenda pertemuan hari ini. Namun, sumber di lingkungan Istana menyebutkan bahwa pertemuan berlangsung tertutup dan bersifat informal.