BANTEN — Ketiadaan Grand Prix Prancis dan Grand Prix Jerman dalam jadwal Formula 1 telah menjadi perdebatan hangat di kalangan penggemar. Sirkuit Le Mans, yang merupakan rumah bagi balapan tertua dalam sejarah F1, terakhir menggelar balapan pada 2022. Sementara itu, Hockenheimring di Jerman sudah tidak masuk kalender sejak 2019 setelah sempat bergantian dengan Nürburgring.
Keputusan untuk menghentikan kedua GP ini bukan tanpa alasan. Dari sisi komersial, biaya penyelenggaraan yang tinggi dan minimnya dukungan finansial dari pemerintah lokal menjadi faktor utama. Grand Prix Prancis di Sirkuit Paul Ricard, yang sempat kembali pada 2018, gagal memperpanjang kontrak setelah 2022 karena masalah pendanaan. Di Jerman, Hockenheimring juga menghadapi tantangan serupa meski memiliki sejarah panjang sejak 1970.
Absennya dua seri ini membuat kalender F1 makin timpang ke Timur Tengah dan Asia. Bagi penggemar di Eropa Barat, perjalanan ke sirkuit terdekat seperti Hungaroring, Monza, atau Barcelona menjadi lebih mahal dan rumit. Padahal, Prancis dan Jerman menyumbang pangsa penonton televisi yang signifikan untuk F1. Liberty Media selaku pemegang hak komersial sadar bahwa kehilangan pasar ini bisa menggerus loyalitas jangka panjang.
Rumor kembalinya Grand Prix Prancis sempat menguat pada awal 2025. Ada wacana memindahkan lokasi dari Paul Ricard ke sirkuit jalan raya di Nice atau kembali ke Magny-Cours. Namun, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi dari Formula One Management. Untuk Jerman, peluang lebih kecil karena tidak ada promotor yang bersedia menanggung biaya penyelenggaraan yang diperkirakan mencapai puluhan juta euro per musim.
Jika F1 ingin mempertahankan identitasnya sebagai kejuaraan balap global, mengembalikan seri di Prancis dan Jerman adalah langkah logis. Kedua negara memiliki infrastruktur sirkuit kelas dunia, basis penggemar yang besar, dan sejarah panjang dalam olahraga ini. Tanpa mereka, kalender F1 terasa kehilangan dua "rumah" yang membentuk karakter kejuaraan sejak era 1950-an.