BANTEN — Camino de Flores, jalur ziarah jalan kaki sepanjang kurang lebih 70 kilometer di Nusa Tenggara Timur, menyiapkan proyek percontohan pada 23–27 Oktober 2026. Rute Bajawa–Boawae–Ende ini digagas Mari Elka Pangestu dengan konsep meniru Camino de Santiago di Spanyol. Sekitar 70 peserta akan memadukan refleksi spiritual, penelusuran sejarah, dan interaksi dengan warga desa.
Mari Elka Pangestu menggagas Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores sebagai pola perjalanan baru yang menghubungkan situs religi dan desa wisata di Pulau Flores. Gagasan itu disampaikan saat peluncuran program di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Menurut Mari Elka, Indonesia bisa memiliki jalur ziarah jalan kaki sendiri, dan Flores dinilai sebagai lokasi yang tepat karena kekayaan tradisi religius serta lanskapnya. Program ini menyasar komunitas peziarah dan wisatawan yang mencari ketenangan lewat perjalanan reflektif, bukan wisata massal berpindah-pindah titik.
Proyek percontohan dijadwalkan berlangsung 23–27 Oktober 2026 dengan sekitar 70 peserta. Mereka akan menyusuri rute Bajawa–Boawae–Ende sepanjang kurang lebih 70 kilometer.
Sepanjang perjalanan, peserta diajak mengikuti kegiatan refleksi spiritual, menelusuri jejak sejarah, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat. Wisatawan juga diperkenalkan pada tradisi tenun ikat, kuliner lokal, dan kehidupan religius warga Flores.
Setelah rute tengah diuji, penyelenggara merencanakan pengembangan Etape Barat yang menghubungkan Labuan Bajo–Ruteng. Ada pula rencana Etape Timur dari Maumere–Larantuka.
Pengembangan tiga etape ini dirancang agar wisatawan tidak hanya menumpuk di Labuan Bajo. Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai Camino de Flores dapat menjadi pola perjalanan baru yang memperluas sebaran kunjungan wisatawan.
Konsep jalan kaki lintas desa diharapkan memperpanjang masa tinggal wisatawan. Dampak ekonominya menyasar penginapan, kuliner, kerajinan, hingga jasa pemandu lokal di sepanjang jalur.
Sebelum dikembangkan lebih luas, proyek percontohan akan dievaluasi untuk memastikan kesiapan jalur, keselamatan, dan operasional. Hasil evaluasi menjadi dasar penyusunan rute final serta pengembangan paket wisata spiritual yang bisa dipasarkan agen perjalanan.
Bagi wisatawan yang ingin mengikuti percontohan ini, informasi pendaftaran, biaya, dan kuota peserta belum dirinci dalam peluncuran. Calon peserta disarankan memantau pengumuman resmi penyelenggara atau menghubungi dinas pariwisata NTT untuk detail terkini.
Durasi ideal mengikuti rangkaian percontohan adalah lima hari, termasuk aklimatisasi dan istirahat antaretape. Setelah rute final diumumkan, perjalanan ini berpotensi menjadi alternatif wisata lambat di Flores yang menggabungkan spiritualitas, alam, dan budaya.