Sebanyak 119 dari 344 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Lebak, Banten, resmi mulai beroperasi di bawah naungan PT Agrinas Nusa Pangan. Koperasi yang lolos verifikasi itu menjalankan aneka usaha untuk menggerakkan ekonomi desa. Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak menargetkan seluruh 344 desa memiliki KDMP yang beroperasi pada tahun depan.
LEBAK — Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Imam Suangsa menyatakan 119 KDMP yang beroperasi itu merupakan hasil verifikasi dan dinilai layak menjalankan kegiatan usaha koperasi. Menurutnya, keberadaan koperasi tersebut dapat menggulirkan perputaran uang di tingkat desa.
Anggota KDMP mencakup pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sehingga produksi mereka bisa ditampung langsung oleh koperasi. "Kami meyakini usaha koperasi itu dipastikan dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat di daerah itu. Kami juga menargetkan tahun depan KDMP bisa beroperasi di 344 desa," kata Imam.
KDMP membuka aneka usaha masyarakat yang mencakup sejumlah gerai, mulai dari gerai koperasi, gerai klinik dan apotek, hingga gerai warung bahan pokok atau sembako. Selain itu, koperasi juga mengelola gerai pertanian dan gerai pergudangan.
Koperasi desa ini juga menjalankan usaha di bidang jasa penyaluran bantuan pemerintah, seperti penyaluran pangan, bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), dan bantuan sosial lainnya.
Kehadiran KDMP disebut akan menumbuhkan sentra-sentra ekonomi masyarakat. Pelaku UMKM di daerah itu banyak memproduksi camilan berbahan baku singkong, pisang, ubi-ubian, dan ikan.
Potensi lokal lain yang bisa masuk ke gerai koperasi meliputi hasil perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan. Dua di antaranya adalah produksi gula aren dari pohon aren serta kaceprek dari pohon melinjo.
"Semua produksi UMKM bisa memenuhi gerai koperasi, sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat," ujar Imam.
Ketua KDMP Desa Pondok Panjang Kabupaten Lebak Aep Saepudin menyebut usaha yang dikembangkan koperasinya berbasis potensi lokal desa setempat. Anggota koperasi di desa itu tercatat 294 orang.
Sebagian besar dari mereka merupakan pelaku UMKM yang memproduksi emping kaceprek, gula aren, sale pisang, dan bakso ikan. "Kami mendorong agar koperasi itu tumbuh dan berkembang sehingga dapat menciptakan perekonomian baru bagi masyarakat pedesaan," kata Aep.