CILEGON — Buku Jejak Kiai Baja menempatkan KH. Ali Jaya dalam persilangan sejarah pendidikan Al-Khairiyah dan perubahan sosial Cilegon menjadi kawasan industri. Kiai itu dikenal sebagai murid generasi pertama KH. Syam'un. Setelah KH. Syam'un gugur dalam perang gerilya pada 1949, KH. Ali Jaya tetap melanjutkan pengembangan Madrasah Al-Khairiyah.
Pengabdian KH. Ali Jaya menjaga keberadaan Madrasah Al-Khairiyah Citangkil berlangsung ketika Cilegon mulai memasuki babak industrialisasi. Pembangunan kawasan industri PT Krakatau Steel mengubah kampung, tanah, dan kehidupan masyarakat. Perubahan itulah yang menjadi salah satu cerita utama dalam buku karya Mang Pram tersebut.
Jejak Kiai Baja bermula dari skripsi Mang Pram di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Khairiyah Citangkil pada 2020. Penelitian tersebut kemudian ditulis ulang dengan pendekatan naratif populer. Prosesnya melalui penelusuran arsip, pustaka, wawancara keluarga, dan kesaksian warga.
"Saya masih ingat saat sidang skripsi, dosen penguji menyarankan hasil penelitian ini dibukukan. Kemudian saya kembali riset lebih mendalam," ujar Mang Pram.
Hingga memasuki masa pembangunan nasional, desa-desa di Cilegon saat itu harus digusur untuk pembangunan pabrik PT Krakatau Steel di awal tahun 1970an. Peristiwa bedol desa itu tidak ditempatkan sekadar sebagai pemindahan warga dalam buku ini. Peristiwa tersebut menjadi pintu untuk melihat bagaimana pembangunan industri mengubah kampung dan memutus sebagian hubungan masyarakat dengan ruang hidupnya.
"Peristiwa bedol desa dan dinamika pembangunan kawasan industri baja nasional adalah bagian yang sangat emosional, karena ada Madrasah Al-Khairiyah Citangkil," kata Mang Pram, Senin, 5 Oktober 2026.
Di titik itulah kisah KH. Ali Jaya bertemu dengan sejarah besar Cilegon. Di satu sisi terdapat madrasah yang berusaha mempertahankan pendidikan dan tradisi keagamaan. Di sisi lain, kawasan industri tumbuh dan mengubah bentang ruang yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Buku ini mencatat kisah tentang seorang kiai yang kemudian melebar menjadi cerita tentang madrasah, kampung, dan masyarakat yang berhadapan dengan pembangunan industri baja. Melalui biografi KH. Ali Jaya, Jejak Kiai Baja tidak hanya mengajak pembaca mengenal seorang tokoh pendidikan Al-Khairiyah.
Buku itu juga membuka kembali sebuah masa ketika Citangkil berubah, masyarakat menjalani bedol desa, dan pembangunan industri baja mulai membentuk wajah Cilegon seperti yang dikenal sekarang.