TANGERANG — Pergerakan harga di Kota Tangerang masih relatif terkendali. Asisten Daerah Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Tangerang, Ruta Ireng Wicaksono, menyebut indeks inflasi daerah berada pada kondisi stabil, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,04.
Meski secara bulanan inflasi tercatat tipis, yakni 0,05 persen, sejumlah harga komoditas pangan tetap menunjukkan gejolak. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama tekanan inflasi di kota berpenduduk lebih dari dua juta jiwa ini.
Salah satu komoditas yang harganya bergerak cukup signifikan adalah daging ayam ras. Komoditas ini mengalami inflasi 5,37 persen dengan andil terhadap inflasi keseluruhan sebesar 0,07 persen.
"Indeks inflasi daerah masih berada pada kondisi stabil, yakni 2,29 persen year on year, 0,05 persen dibandingkan bulan sebelumnya, dengan IHK sebesar 110,04," ujar Ruta, Selasa (1/9/2026).
Pemerintah Kota Tangerang menyadari potensi kenaikan permintaan bahan pangan yang biasanya terjadi menjelang akhir tahun. Karena itu, pergerakan harga daging ayam ras menjadi perhatian khusus.
Pemkot Tangerang mengikuti arahan Kementerian Perdagangan untuk menjaga harga daging ayam tetap berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan sekitar Rp40 ribu per kilogram. Langkah ini diambil untuk memastikan daya beli masyarakat tidak tergerus.
"Kami akan memantau perkembangan di lapangan untuk memastikan tidak ada kenaikan harga yang signifikan," kata Ruta.
Pihaknya menyatakan telah menyiapkan sejumlah intervensi pasar untuk menjaga stabilitas harga hingga akhir 2026.
Inflasi Kota Tangerang yang menempati posisi terendah di Banten menjadi kabar baik di tengah tekanan ekonomi nasional. Namun, tantangan bagi jajaran Pemkot bukan sekadar mempertahankan angka statistik.
Persoalan utamanya adalah memastikan inflasi yang rendah itu benar-benar dirasakan masyarakat di pasar tradisional maupun ritel modern, bukan hanya berhenti sebagai catatan dalam tabel BPS.