CILEGON — Pemkot Cilegon memperluas program pengelolaan sampah berbasis sekolah melalui KOLASE yang digelar di SDN Sumampir, Rabu (19/8/2026). Program yang berjalan sejak 2023 ini tercatat telah mengurangi volume sampah hingga 35 ton dengan nilai tabungan mencapai Rp 58 juta.
Kepala DLH Kota Cilegon Sabri Mahyudin menyebut capaian itu buah dari keterlibatan aktif para pelajar. Menurutnya, edukasi yang dimulai dari bangku sekolah akan menular ke keluarga dan masyarakat sekitar.
“Kami berharap ke depan sesuai dengan target yang diberikan Pak Walikota. Intinya pendidikan kita mulai dari sekolah, sehingga ada kesadaran dari keluarga dan masyarakat untuk memilah sampah,” ujar Sabri.
Di SDN Sumampir, para siswa dibiasakan membawa sampah dari rumah, baik plastik, kertas, maupun jenis lain yang masih bernilai. Setiap anak ditargetkan mengumpulkan sekitar satu kilogram sampah dalam periode tertentu.
Sampah yang terkumpul kemudian ditimbang dan dicatat sebagai tabungan yang dikelola melalui rekening kelas. Dengan begitu, siswa dapat melihat langsung manfaat ekonomi dari kebiasaan memilah sampah.
Kepala SDN Sumampir Junaesih mengatakan kegiatan ini mengubah cara pandang anak terhadap sampah. “Melalui kegiatan kolase ini, anak-anak diedukasi bahwa sampah tidak harus selalu dibuang. Ternyata sampah bisa dimanfaatkan kembali dan menghasilkan nilai ekonomi,” katanya.
Wali Kota Robinsar menilai persoalan sampah tidak akan selesai hanya dengan mengandalkan penanganan di TPA. Kesadaran memilah harus ditanamkan sejak dini agar menjadi kebiasaan sehari-hari.
“Memang tidak bisa hanya dikelola di TPSA, tetapi bagaimana sampah ini harus dipilah dan dikurangi sejak dari sumbernya,” kata Robinsar.
“Ini dalam rangka meningkatkan kesadaran sekaligus memberikan pemahaman kepada anak-anak kita. Karena persoalan sampah tidak bisa serta-merta hilang, tetapi membutuhkan kesadaran yang harus ditanamkan sejak dini,” sambungnya.
KOLASE merupakan hasil kolaborasi CSR PT Chandra Asri Pacific (CAP) bersama Barito Pacific Group melalui Yayasan Bakti Barito. Program ini melibatkan bank sampah, perbankan, serta DLH Kota Cilegon.
Sabri menegaskan pengelolaan sampah tidak bisa dilakukan sendiri oleh dinas atau pemerintah daerah. Dibutuhkan sinergi dengan dunia industri untuk memperluas edukasi dan mendorong lebih banyak sekolah terlibat.
Junaesih berharap kebiasaan baik ini tidak berhenti di lingkungan sekolah. “Harapannya anak-anak menjadi lebih bertanggung jawab terhadap sampah, tidak membuang sembarangan, serta memahami bahwa sampah masih bisa dimanfaatkan kembali,” ujarnya.