DKPP Kabupaten Serang Pulihkan 17 Hektare Lahan Pertanian dari Kekeringan, 965 Hektare Masih Terancam El Nino

Penulis: Ujang Rahmat  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:10:01 WIB
Petugas menunjukkan area persawahan di Kabupaten Serang yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau.

SERANG — Upaya penyelamatan lahan pertanian dari dampak kekeringan ekstrem di Kabupaten Serang mulai menunjukkan hasil. DKPP setempat mencatat 17 hektare sawah yang sempat terancam kini berstatus pulih, meskipun ratusan hektare lainnya masih dalam kondisi kritis.

Kepala DKPP Kabupaten Serang Suhardjo mengatakan langkah antisipasi akan terus dimaksimalkan untuk menyelamatkan lahan kritis lain. Hal ini menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan puncak musim kemarau tahun 2026 terjadi pada periode Juli hingga September.

"Pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi agar dampak kekeringan terhadap produksi pangan ini tidak semakin meluas," kata Suhardjo di Serang, Selasa.

72 Hektare Sawah Gagal Panen, 474 Hektare Masih Terancam

Berdasarkan data DKPP, dari total 965 hektare lahan pertanian yang terdampak, rinciannya adalah 474 hektare masih berstatus terancam, 400 hektare rusak ringan, 291 hektare rusak sedang, 202 hektare rusak berat, dan 72 hektare mengalami puso atau gagal panen.

Lahan-lahan tersebut tersebar di 11 kecamatan, meliputi Pamarayan, Petir, Tirtayasa, Tunjung Teja, Bandung, Tanara, Jawilan, Kopo, Pontang, Anyer, dan Binuang.

Penyebab Utama: Sawah Tadah Hujan dan Jarak Sumber Air Terlalu Jauh

Suhardjo menjelaskan, kekeringan ekstrem dipicu oleh ketiadaan curah hujan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini diperparah oleh banyaknya sawah tadah hujan yang tidak memiliki sumber air, menyusutnya debit air, serta jarak lokasi sumber air yang terlalu jauh sehingga menyulitkan proses pompanisasi.

Sebagai langkah penanganan, DKPP Kabupaten Serang telah mendistribusikan sekitar 600 unit pompa air selama periode 2023 hingga 2025.

99 Titik Infrastruktur Pengairan Dibangun, 1.599 Hektare Dioptimalkan

Pemerintah setempat juga memasifkan pembangunan 99 titik infrastruktur pendukung pengairan. Sarana tersebut terdiri atas 52 titik Irigasi Perpompaan (Irpom), 29 titik Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT), 16 titik sumur bor, dan dua titik Irigasi Perpipaan (Irpa).

Untuk memperkuat ketahanan produksi pertanian dari ancaman perubahan iklim, pada tahun ini DKPP turut merealisasikan program optimalisasi lahan pertanian seluas 1.599 hektare. Program tersebut didukung dengan biaya pengolahan lahan sebesar Rp4,6 juta per hektare.

Reporter: Ujang Rahmat
Sumber: banten.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top