BANTEN — PT Honda Prospect Motor (HPM) sengaja menahan informasi harga Super-ONE saat perilisannya di GIIAS 2026. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Honda ingin calon pembeli memahami dulu filosofi dan keunikan mobil listrik pertamanya di Indonesia sebelum mempertimbangkan nominal yang harus dibayar.
Yusak Billy, Sales, Marketing, dan After Sales Director PT HPM, menjelaskan bahwa momen ini digunakan untuk membangun pemahaman konsumen terhadap produk. "Supaya konsumen mengenal lebih dahulu seperti apa Honda Super-ONE sebelum mengetahui harga. Tujuannya supaya konsumen paham mengapa kami meluncurkan mobil ini di Indonesia," ujarnya dalam acara Deep Dive Honda Super-ONE di GIIAS 2026, Jumat (31/8).
Pernyataan Billy cukup gamblang: Super-ONE bukan mobil listrik untuk semua orang. "Mungkin mobil ini bukan untuk dimiliki untuk semua orang, tapi benar-benar untuk mereka yang ingin benar-benar merasakan bedanya berkendaraan mobil listrik, yang berbeda dengan mobil listrik lainnya," tambahnya.
Klaim "berbeda" itu didukung oleh spesifikasi yang memang tidak umum di kelasnya. Secara desain, Super-ONE membawa nuansa retro-modern yang mengingatkan pada hatchback Honda era 1980-an, City Turbo. Untuk urusan handling, Honda memperlebar pijakan roda (tread) hingga 10 mm demi stabilitas bermanuver yang lebih baik.
Angka yang lebih menarik justru datang dari bobot. Dengan berat hanya sekitar 1.090 kg, Super-ONE menjadi salah satu mobil listrik paling ringan di kelasnya. Bobot ringan ini biasanya berdampak langsung pada efisiensi dan kelincahan berkendara di perkotaan.
Soal penggerak, motor listriknya menghasilkan tenaga 63 hp dan torsi 162 Nm. Angka ini berubah drastis saat mode BOOST diaktifkan, di mana tenaga meningkat menjadi 95 hp. Baterai berkapasitas 29,6 kWh disematkan untuk mendukung motor tersebut, dengan klaim jarak tempuh mencapai 274 km dalam sekali pengisian.
Dari data yang dirilis, ada beberapa catatan yang perlu dipertimbangkan pembeli. Pertama, jarak tempuh 274 km tergolong standar untuk mobil perkotaan, tapi mungkin kurang ideal untuk perjalanan antar kota yang sering. Kedua, tenaga dasar 63 hp terbilang modest—cocok untuk penggunaan dalam kota, tapi perlu diuji bagaimana performanya saat membawa beban penuh atau di jalan tol.
Ketiga, belum ada informasi soal waktu pengisian daya, fasilitas garansi baterai, atau jaringan layanan purna jual khusus untuk EV ini. Ini pertanyaan yang wajib dijawab Honda sebelum konsumen Indonesia memutuskan membeli.
Terakhir, posisi harga masih menjadi tanda tanya besar. HPM baru akan mengumumkannya pada Rabu 5 Agustus 2026. Sampai saat itu tiba, konsumen hanya bisa menilai Super-ONE dari spesifikasi dan pengalaman langsung di pameran.
Keputusan Honda untuk menunda pengumuman harga adalah langkah berani. Ini bisa menjadi strategi jitu untuk membangun ekspektasi, atau justru bumerang jika harga yang diumumkan nanti tidak sesuai dengan persepsi nilai yang sudah terbentuk. Yang jelas, Super-ONE bukan EV mainstream—dan Honda ingin memastikan calon pembelinya paham betul akan hal itu.