Australia Gelontorkan Rp50 Miliar untuk Studi Kelayakan Kilang Minyak Pertama dalam 60 Tahun

Penulis: Tedy Rustandi  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 07:57:01 WIB
Pemerintah Australia menggelontorkan dana sekitar Rp50 miliar untuk studi kelayakan pembangunan kilang minyak pertama di negara itu dalam 60 tahun terakhir.

BANTEN — Pemerintah federal Australia bersama Pemerintah Negara Bagian Australia Barat menyetujui pendanaan awal sebesar A$4 juta atau sekitar Rp50,46 miliar (kurs Rp12.617 per A$1) untuk studi kelayakan proyek kilang minyak baru. Rencana ini digagas oleh Perdaman, perusahaan produsen bahan kimia industri, dan akan dibangun di Australia Barat jika hasil studi menunjukkan proyek tersebut layak secara ekonomi dan teknis.

Mengapa Australia Membangun Kilang Baru Sekarang?

Keputusan ini diambil setelah Kementerian Keuangan Australia mengeluarkan peringatan bahwa pasar minyak global semakin rentan akibat menipisnya bantalan terhadap gangguan pasokan. Konflik di Timur Tengah yang meningkat membuat persediaan minyak global menurun, sementara pasar bahan bakar olahan menghadapi risiko pengetatan pasokan yang lebih besar.

"Salah satu manfaat membangun ketahanan nasional adalah membuat Australia menjadi tidak terlalu rentan terhadap dampak berbagai peristiwa yang terjadi di seluruh dunia," ujar Albanese kepada wartawan di Karratha, wilayah Pilbara, Australia Barat, Selasa (28/7), dikutip dari Reuters.

Ketergantungan Impor 80% dan Riwayat Penutupan Kilang

Saat ini Australia masih mengimpor sekitar 80% kebutuhan bahan bakarnya. Kondisi ini kontras dengan masa lalu: sebagian besar kilang domestik dibangun pada era 1950-an dan 1960-an. Namun, tingginya biaya operasional dan munculnya kilang-kilang raksasa di Asia memaksa banyak fasilitas tutup dalam tiga dekade terakhir.

Pada tahun 2000, Australia masih memiliki delapan kilang yang beroperasi. Kini hanya tersisa dua: kilang Ampol di Queensland dan fasilitas Viva Energy di Victoria. Kilang satu-satunya di Australia Barat—fasilitas Kwinana milik BP berkapasitas 146.000 barel per hari—tutup pada 2021 dan diubah menjadi terminal impor bahan bakar.

Langkah Selanjutnya dan Prospek Proyek

Pemerintah masih menunggu hasil studi kelayakan untuk memastikan lokasi dan kelanjutan proyek. "Kami ingin memastikan lokasinya tepat, tetapi kami juga ingin memastikan proyek ini benar-benar layak dan dapat dilanjutkan," kata Albanese.

Proyek ini menjadi sinyal bahwa negara maju seperti Australia mulai serius membangun kembali kapasitas pengolahan minyak domestik di tengah ketidakpastian geopolitik global. Jika terealisasi, kilang ini akan menjadi yang pertama dibangun di Australia dalam lebih dari enam dekade.

Reporter: Tedy Rustandi
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top