BANTEN — Sepanjang tahun 2025, Indofarma hanya membukukan penjualan bersih sebesar Rp 151,5 miliar. Meski angka penjualan masih rendah, perseroan berhasil menekan beban umum dan administrasi hingga 55,2% serta melakukan efisiensi operasional di berbagai lini. Dari hasil itu, pendapatan lain-lain pun ikut teroptimalkan.
“Berbagai langkah efisiensi dan optimalisasi yang kami lakukan telah menghasilkan perbaikan kinerja yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Direktur Utama INAF, Sahat Sihombing, dalam keterangan tertulis, Jumat (26/6/2026).
Perbaikan paling mencolok ada di sisi struktur keuangan. Defisiensi modal Indofarma berkurang dari Rp 1,144 triliun menjadi Rp 707 miliar. Penurunan ini utamanya didorong oleh berkurangnya liabilitas jangka pendek sebesar 58%.
Artinya, tekanan utang jangka pendek yang sebelumnya membebani arus kas perusahaan mulai longgar. Ini menjadi modal penting bagi Indofarma untuk menjalankan rencana bisnis ke depan tanpa terus-terusan terbebani kewajiban jatuh tempo.
Di tengah kondisi keuangan yang masih merugi, Indofarma tetap mampu menjaga daya saing di bisnis jangka panjang. Penjualan ekspor perusahaan tercatat tumbuh 11,9% sepanjang 2025. Efisiensi biaya berhasil ditekan hingga 55,7%.
Perseroan juga mengantongi 29 sertifikasi dari berbagai lembaga, mencakup standar mutu, keamanan, serta kepatuhan nasional dan internasional. Selain itu, Indofarma memiliki Nomor Izin Edar (NIE) obat untuk berbagai kelas terapi. Portofolio ini dinilai menjadi modal untuk mendukung ketahanan kesehatan nasional.
“Ke depan, perseroan akan terus memperkuat daya saing melalui pengembangan portofolio produk, optimalisasi fasilitas produksi, serta penciptaan pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ujar Sahat.
Sepanjang 2025, Indofarma menjadikan tahun tersebut sebagai momentum fondasi bisnis berkelanjutan. Perbaikan kinerja yang sudah terlihat diharapkan bisa berlanjut seiring pemulihan likuiditas dan penguatan pasar ekspor.