BANTEN — Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat sistem penyaluran bantuan sosial melalui digitalisasi data. Salah satu mekanisme yang diimplementasikan adalah verifikasi penerima bansos menggunakan teknologi pengenalan wajah atau face recognition. Langkah ini diharapkan meminimalkan kesalahan sasaran yang selama ini kerap dikeluhkan publik.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menegaskan bahwa penguatan perlindungan sosial harus bertumpu pada tiga pilar utama: data akurat, sasaran tepat, dan program Sekolah Rakyat. Menurutnya, ketidakakuratan data akan berimbas langsung pada kegagalan program.
“Kalau datanya tidak akurat, maka sasarannya juga tidak tepat,” ujar Gus Ipul dalam keterangan resmi yang dikutip Minggu (14/6/2026).
Teknologi face recognition akan digunakan untuk mencocokkan data penerima bansos dengan data kependudukan yang telah terdigitalisasi. Proses ini bertujuan menggantikan verifikasi manual yang rawan manipulasi dan kesalahan administratif. Dengan sistem ini, setiap penerima bansos akan terverifikasi secara langsung saat pencairan bantuan.
Penerapan teknologi ini merupakan bagian dari transformasi digital yang digencarkan Kemensos. Selain mempercepat proses verifikasi, sistem ini juga dirancang untuk menekan potensi penyimpangan data di lapangan. Publik diharapkan dapat memantau langsung akurasi data penerima melalui mekanisme digital yang transparan.
Kemensos belum merinci jadwal implementasi penuh teknologi ini di seluruh wilayah Indonesia. Namun, uji coba sistem telah dimulai di sejumlah daerah untuk memastikan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Ke depannya, integrasi data lintas kementerian menjadi kunci keberhasilan program ini.
Gus Ipul menambahkan bahwa akurasi data bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah dan masyarakat. Sinergi semua pihak diperlukan agar bantuan sosial benar-benar dirasakan oleh mereka yang berhak. “Sekolah Rakyat juga menjadi prioritas untuk memutus rantai kemiskinan,” pungkasnya.