BANTEN — Indeks sempat melesat ke level tertinggi 6.010 di awal sesi, namun aksi jual deras membalikkan arah hingga menyentuh titik terendah harian di 5.788. Nilai transaksi tercatat Rp12,68 triliun dengan volume 222,58 juta lot dan frekuensi 1,53 juta kali, menandakan tekanan jual cukup masif.
Koreksi kali ini bersifat universal. Tak satu pun sektor industri mampu bertahan di zona hijau. Sektor bahan baku memimpin pelemahan dengan ambles 6,27 persen, disusul energi yang turun 3,17 persen.
Sektor transportasi dan industri masing-masing terkoreksi 2,94 persen dan 2,84 persen. Infrastruktur melemah 2,45 persen, properti turun 1,71 persen, dan konsumer siklikal minus 1,69 persen. Sektor non-siklikal juga ikut tergerus 1,19 persen.
Bahkan saham defensif seperti kesehatan minus 0,94 persen, sementara teknologi dan keuangan masing-masing hanya turun tipis 0,05 persen dan 0,15 persen.
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyebut IHSG mengalami tekanan jual (selling pressure) setelah mendekati area 5.900–6.000. Level 6.000 disebut sebagai resistance penting pasca rebound kuat dalam dua hari sebelumnya.
“Level tersebut pernah menjadi area breakdown sehingga berubah fungsi dari support menjadi resistance,” tulis analis BRI Danareksa. Selain itu, terdapat overhead supply—banyak investor memanfaatkan rebound untuk profit taking atau keluar di harga modal.
“Foreign outflow masih berlanjut, terutama pada saham-saham big caps yang menjadi penopang indeks,” lanjut riset tersebut.
BRI Danareksa menegaskan, selama IHSG belum mampu menembus dan bertahan di atas 6.000–6.215, potensi pullback sehat tetap terbuka. Investor disarankan mencermati area support terdekat di 5.680–5.720, dan support lanjutan di 5.550–5.600.
Artinya, jika tekanan jual berlanjut, IHSG masih berpotensi turun sekitar 100–200 poin dari level penutupan sesi I hari ini. Pasar kini menanti katalis baru—baik dari data ekonomi domestik maupun sentimen global—untuk menentukan arah selanjutnya.