BANTEN — Pusat gempa berada di perairan dangkal Teluk Moro, kawasan yang dikenal memiliki kompleksitas tektonik tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah Indonesia bagian timur, meskipun kemudian dinyatakan berakhir tanpa gelombang signifikan.
Daryono, pengamat dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menjelaskan bahwa Teluk Moro merupakan bagian dari Zona Subduksi Cotabato. Di zona ini, Lempeng Laut Sulawesi menunjam di bawah Lempeng Mikro Mindanao, menciptakan sistem palung aktif yang rawan gempa besar.
"Gempa 17 Agustus 1976 M8,0 merupakan manifestasi pelepasan energi deformasi elastis yang masif akibat interaksi konvergensi lempeng. Sebagai gempa tipe megathrust yang bersumber pada sesar naik (thrust faulting), peristiwa ini menghasilkan dislokasi vertikal dasar laut yang signifikan," ujar Daryono dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Selasa (9/6/2026).
Karakteristik tsunami yang dihasilkan dari gempa serupa sangat destruktif. Menurut Daryono, lokasi Teluk Moro yang berada di perairan dangkal dan sempit membuat gelombang tsunami mencapai ketinggian hingga 9 meter di Lebak. Akibatnya, 90 persen korban jiwa pada gempa 1976 disebabkan oleh tsunami, bukan guncangan gempa itu sendiri.
"Gelombang tsunami yang mencapai ketinggian hingga 9 meter di Lebak menunjukkan besarnya pergeseran vertikal kolom air akibat pergerakan thrusting tersebut," katanya.
Setelah jeda seismik panjang pasca-1976, zona ini kembali menunjukkan aktivitas. Gempa magnitudo 6,8 pada tahun 2002 dan 2023 di area yang sama menandakan akumulasi dan pelepasan tegangan secara konsisten. Gempa terbaru 8 Juni 2026 dengan magnitudo 7,8 mempertegas urgensi pengamatan.
"Berdasarkan analisis mekanisme sumber (focal mechanism) memiliki mekanisme sumber pergerakan naik (thrusting) konsisten dengan kompresi lempeng di zona subduksi Cotabato. Kedalaman hiposenter 35 km menempatkan gempa ini berada pada antarmuka lempeng (plate interface) yang aktif," ungkap Daryono.
Daryono menekankan bahwa kedekatan episenter gempa 2026 dengan pusat gempa 1976 mengindikasikan zona subduksi ini belum sepenuhnya melepaskan energi seismiknya. Aktivitas yang meningkat menunjukkan wilayah ini berada dalam fase siklus gempa yang sangat aktif.
"Kebutuhan akan sistem pemantauan seismik real-time dan protokol evakuasi dini yang berbasis pada pemodelan tsunami yang lebih akurat menjadi prioritas mutlak. Mitigasi tidak boleh lagi hanya bersifat reaktif," tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas Filipina masih melakukan evakuasi di sejumlah wilayah terdampak. Korban luka tercatat sebanyak 134 orang, sementara kerusakan bangunan masih terus didata.