SERANG — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menerima tawaran kerja sama investasi murni dari pihak swasta untuk mengatasi persoalan limbah melalui teknologi konversi sampah menjadi uap (steam). Proyek yang diusulkan oleh PT Solusindo Sampah Energi (SSE) ini direncanakan menjadi proyek percontohan nasional yang mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan kebutuhan energi manufaktur.
Nilai investasi untuk fasilitas ini diperkirakan mencapai Rp4 triliun dengan kapasitas pengolahan antara 3.000 hingga 4.000 ton sampah per hari. Skema yang ditawarkan merupakan investasi mandiri tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), termasuk dalam pengelolaan sistem logistik pengangkutan bahan baku secara terintegrasi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Banten, Wawan Gunawan, menyebutkan bahwa hasil olahan sampah berupa uap panas tersebut sangat relevan dengan kebutuhan sektor industri di wilayah Cilegon. Selama ini, banyak pabrik di kawasan tersebut masih mengandalkan turbin berbahan bakar batu bara untuk operasional mereka.
"Kebutuhan steam di kawasan industri Cilegon diperkirakan mencapai 600 ton per hari. Ini langkah yang baik terutama untuk menekan emisi karbon dan gas rumah kaca," kata Wawan di Serang, Rabu.
Wawan menambahkan, pemanfaatan uap dari sampah ini dapat menjadi alternatif energi hijau yang lebih ramah lingkungan. Selain membantu daerah mengurangi volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), langkah ini sekaligus mendukung komitmen dekarbonisasi di sektor industri Banten.
Berbeda dengan teknologi pengolahan sampah konvensional yang ada di Indonesia, sistem yang ditawarkan ini diklaim mampu mengolah 100 persen limbah menjadi energi. Direktur PT SSE, Mahadir, menjelaskan bahwa keunggulan utama teknologi ini adalah kemampuannya memproses sampah tanpa perlu proses pemilahan awal di hulu.
"Selama ini teknologi pengolahan sampah di Indonesia rata-rata hanya mampu mengolah sekitar 40 persen, sementara sisanya menjadi masalah baru. Kami menawarkan solusi tanpa pemilahan yang teknologinya merupakan pengembangan dari Jepang," ujar Mahadir.
Menurut Mahadir, setiap 1.000 ton sampah yang masuk ke fasilitas ini dapat dikonversi menjadi sekitar 2.400 hingga 2.500 ton uap siap pakai. Teknologi serupa sebelumnya telah sukses diimplementasikan di beberapa negara seperti Singapura, India, hingga Dubai.
Meski potensi investasinya besar, Pemprov Banten masih mematangkan kajian terkait stabilitas pasokan bahan baku sampah. Wawan Gunawan mengungkapkan bahwa sebagian besar timbulan sampah di wilayah Cilegon saat ini sudah dialokasikan untuk program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Sebagai solusi, pemerintah daerah mempertimbangkan untuk menarik pasokan sampah dari wilayah lain agar kapasitas mesin tetap optimal. Skema pengangkutan dari daerah penyangga menjadi kunci keberlanjutan operasional pabrik uap ini ke depan.
"Solusi yang paling memungkinkan adalah mengambil pasokan sampah dari daerah lain seperti Lebak dan Pandeglang melalui pendekatan lebih lanjut bersama investor," jelas Wawan.
Hingga saat ini, Pemprov Banten belum memberikan keputusan final terkait izin operasional. Namun, pimpinan daerah dilaporkan memberikan respons positif terhadap usulan ini sembari menunggu pematangan skema logistik dan teknis pengangkutan sampah lintas kabupaten/kota.