BANTEN — Rupiah membuka perdagangan Rabu (23/9/2026) dengan penguatan 0,15% ke Rp17.846 per dolar AS, lalu melanjutkan apresiasi 0,24% menjadi Rp17.830. Meredanya tekanan harga minyak mentah menjadi penopang utama pergerakan mata uang Garuda di pasar spot pagi ini.
Rupiah menempati posisi kedua sebagai mata uang Asia dengan penguatan terbesar pagi ini, setelah won Korea Selatan yang memimpin dengan apresiasi 0,27%. Peso Filipina, dolar Taiwan, baht Thailand, dan ringgit Malaysia menyusul dengan penguatan terbatas.
Harga minyak mentah Brent kembali terpangkas 0,5% ke US$98,75 per barel pada 09.10 WIB. Penurunan ini menyusul adanya kemajuan dalam perundingan dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan para pejabat AS telah menggelar pertemuan yang "sangat produktif" dengan utusan Iran. Pernyataan itu muncul meskipun sebelumnya Trump mengancam akan memusnahkan Republik Islam tersebut dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Trump menambahkan bahwa pertemuan lanjutan telah direncanakan. Sikap ini meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak yang sempat melanda pasar dan membuat mata uang negara-negara pengimpor minyak punya ruang penguatan pagi ini.
Penguatan rupiah terjadi menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia. Pelaku pasar mencermati apakah bank sentral akan mempertahankan stance kebijakan moneter di tengah dinamika global yang masih bergejolak.
Bagi investor, pergerakan rupiah hari ini menjadi indikator awal sentimen terhadap aset domestik. Penguatan mata uang biasanya berdampak positif pada pasar obligasi dan saham sektor yang bergantung pada impor bahan baku.
Namun, arah rupiah masih bergantung pada hasil keputusan BI dan perkembangan perundingan AS-Iran yang bisa berubah cepat. Pelaku pasar disarankan mencermati data cadangan devisa dan arus modal asing di pasar Surat Berharga Negara.